Home » Opini

Remains of the Day

1 March 2007 58 views One Comment

Oleh: Lakshmi
From: http://jejakartemis.blogspot.com

Menjadi perempuan bukan pilihan, tapi adalah takdir. Kalau ada yang memercayai reinkernasi, menjadi perempuan adalah karma yang dituai pada kehidupan yang lalu. Pada perjalanan spiritualku mencari sosok Tuhan, aku bertanya kepada partner, jikalau dia dapat kesempat memilih, jenis kelamin manakah yang dia inginkan dalam kehidupan yang akan datang. Dia bilang dia memilih jadi perempuan. Aku bertanya, bagaimana jika kita bertemu lagi di kehidupan di masa yang akan datang saat aku pun memilih menjadi perempuan. Dia tetap memutuskan ingin menjadi perempuan. Aku menghela napas panjaaaang. Kalau begitu, di masa yang akan datang – dengan kata lain – kita berdua akan menjadi lesbian selamanya. Kacian deh kami!

Bagaikan penari topeng, aku menari dengan berbagai peran yang kulakoni dalam kehidupanku. Subuh aku terbangun, menyiapkan urusan rumah tangga dan membangunkan anakku. Aku mengentak dengan beat lembut sebagai ibu dan istri. Menyapa para ibu yang mengantar anaknya ke sekolah, aku tetap seorang ibu yang peduli, walaupun aku telah siap dengan pakaian kerjaku yang rapi dan sering kali formal. Setelah itu, sepanjang hari, aku menarikan goyangan hot, meliuk lincah, terbang tinggi ke setiap sudut jalan raya, sepuluh jari melompat di tuts laptop, mengurus aneka beban dan tanggungjawab pekerjaanku. Aku menjahit satu keberhasilan dan keberhasilan lainnnya, menaiki satu anak tangga ke anak tangga berikutnya, berputar-putar dalam angin ribut yang terkadang menyerbu hari-hariku, dan akhirnya terpaksa berpose dengan manis sebagai sosok perempuan berpigura publik.

Tengah hari aku harus memutuskan hendak berlabuh di mana untuk mengeyangkan perutku. Terkadang aku berhasil mengikat jurai-jurai kesibukanku sehingga ada celah untuk makan siang bersama partner. Jikalau tidak, aku mengirimkan SMS kepadanya, bertanya dia makan di mana dan mengucapkan selamat makan. Terkadang aku mendarat di kantor suami di bilangan tempat perkantoran elit Jakarta, di lantai sekian-sekian, di mana pemandangan terbentang anggun dari ruang kerjanya yang luas dan tertata rapi.

Aku tenggelam dalam pekerjaanku sampai senja memutarkan dadu, ketika kereta kuda Helios berderap masuk menuju gerbang tinggi di kaki langit cakrawala. Terkadang aku tersadar, terkadang aku tidak tersadar, sampai gelap sungguh-sungguh menebarkan gaun kelamnya di atas kota Jakarta. Saat itulah aku harus berhenti memerankan diriku sebagai pekerja. Bagai bunglon, aku berubah kembali menjadi ibu bagi kedua anakku, menyuapi bubur saring untuk si baby, dan menemani yang sulung makan malam. Sering kali ada undangan khusus bagiku untuk menghadiri suatu acara yang berhubungan dengan pekerjaan profesionalku pada malam hari. Aku pun harus meluncur ke tempat itu, di mana terkadang aku menjadi guest of honor. Ada hari-hari khusus ketika aku harus mendampingi suami untuk menjadi permaisuri (undangan selalu dimulai dengan tulisan Mr. And Mrs.) saat dia harus menyambut tamu-tamu penting kerajaannya.

Malamnya, saat tubuh letih dan hati berubah warna menjadi pucat, aku bergelung nyaman bersama piamaku. Aku bagaikan kain pel tua yang terlalu sering digunakan untuk mengelap lantai, sekarang terangguk-angguk di tiang jemuran menunggu saat kering mengecup seluruh tubuhku. Sungguh lelah melakoni berbagai peran ganda dalam kehidupanku. Tapi di lain pihak aku juga merasa kaya; kaya raya karena aku diberi kesempatan untuk memiliki aneka peran ini karena tidak semua perempuan mempunyai kesempatan yang sama denganku.

Bateraiku belum seutuhnya habis karena otakku masih menyala terang. Mengendap-endap aku mengambil laptopku, membukanya. Dalam kegelapan kamar sambil membuai anak-anakku, aku pun bermetamorfosis menjadi Lakhsmi, perempuan lesbian yang menulis puluhan blog di dunia maya, menebarkan segenggam demi segenggam kisah hidup seorang perempuan yang membagi napas dalam tubuh yang sama. Lakhsmi ingin merengkuh hati banyak perempuan yang mungkin juga mengalami terpaan kelelahan batin pada malam itu dengan jutaan kata-kata yang tertuang dari sepuluh jemarinya. Kusimpan dalam memori komputer sepotong esai atau sepenggal opini yang berhasil kuselesaikan pada tiap-tiap malam, agar besok aku mencuri waktu untuk “menerbitkan”nya di tengah pusaran hari kesibukanku.

Demikianlah hari pun berakhir. Kupegang erat-erat ekor malam sambil merengkuh si baby dalam pelukan. Kuingat teman lesbianku mengirimkan SMS pada pukul satu dini hari, mengingatkanku untuk berdoa, memasrahkan satu hari di dalam tanganNya. Dan aku merundukan kepala, membiarkan sayapku tumbuh agar aku dapat mengepakkannya menuju galaksi terluar dari taman berbunga bintang. Lamat-lamat jiwaku telah dipeluk oleh semesta. Aku pun berdoa.

@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007

One Comment »

  • tiek said:

    bertindak semaunya sendiri tanpa perhitungan …
    tapi tidak mau bertanggung jawab …
    Apakah ini sosok lesbian yang kita tampilkan …
    Menentukan pilihan sebagai lesbian saja sudah dinilai miring oleh masyarakat, apalagi kalau diantara kita lesbian bertingkah semau gue …
    payah …

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.