Home » Your Story

A Blade Of Truth

7 March 2007 55 views One Comment

Oleh: Lakhsmi
From: http://jejakartemis.blogspot.com

Dalam tubuhku tumbuh sebilah pedang. Mulanya dia hanya sebentuk pisau kecil bermata dua. Tak lama dia berubah bentuk menjadi pisau dapur berhulu runcing. Bagai kelopak bunga yang menelanjangkan dirinya di hadapan matahari, pisau itu bermetamorfosis menjadi pedang teramat tajam. Pedang yang kini kubawa setiap saat. Pedang yang bersemayan nyaman dalam hati.

Sungguh sulit membawa pedang di dalam diri, setiap saat. Sudah tak terhitung berapa kali bilahnya menusuk hatiku, membuatnya terluka. Membuatku mengernyit menahan pedih, menahan tetes air yang berkolam di mata. Aku bertanya kepada Tuhan pada saat kami mengadakan obrolan kecil-kecilan di suatu senja. Bolehkah kucabut keluar pedang ini? Telah habis langkahku ditebasnya. Telah payah tangan mungilku menekan semburat darah.

Tuhan menghabiskan kue cokelat buatanku, menghirup kopi sampai cangkirnya licin tandas lalu Dia berlalu. Berlalu tanpa berkata apa-apa. Ingin kumaki punggung-Nya yang menghilang dalam keremangan senja. Ingin kuracun kopi itu kelak. Ingin kuangkat pedangku dan kubiarkan Dia saja yang menanggungnya. Aku tersuruk jatuh di beranda sia-sia memanggil nama-Nya, pada malam itu. Menghitung bintang sambil mengurai air mata.

Kucoba mencabut pedang itu sendiri. Sial. Efeknya ternyata membuatku terkejut. Pedang itu dapat menebas hati orang lain. Jangan, itu kata suara hati. Kusarungkan pedang itu kembali di dalam hatiku. Takkan kubiarkan orang lain terluka. Cukuplah aku saja yang merasakan betapa perih darah yang menetes dari lambung jantungku.

Sepanjang perjalananku, aku melihat perempuan-perempuan lain yang mempunyai taman pedang di dalam hatinya. Darah yang berada di hulu pedang itu bukan hanya darah diri sendiri, tapi juga penuh dengan darah manusia lainnya. Aku termangu tak percaya. Butuh berapa pengorbanan lagikah yang perempuan itu inginkan? Satu tidak cukup. Dua tidak cukup. Bahkan tiga atau empat mungkin juga belum cukup untuk memuaskan kegilaannya dengan darah hati manusia lain. Baginya, berpedang adalah seni pertunjukan kolosal yang gegap gempita.

Butuh waktu bagiku untuk mencerna semua ini. Pedang yang hidup di hatiku bukan sekadar pedang. Dialah pedang kebenaran sejati diriku. Ada pantulan wajahku di kilau matanya. Aku sering kali gugup melihat keindahan pedang ini. Begitu sempurna, begitu tak tercela. Tapi mengapa aku tak rela jika orang lain mengintip pedangku dan membiarkan mereka mengaguminya? Kusimpan rapat-rapat benda keramat ini di hatiku. Biarlah hanya hatiku yang tertusuk dan terluka dan mata nyalang menghitung malam. Yang penting takkan ada orang lain yang sangat kukasihi menderita terkena sabetannya. Bukankah sesuatu yang tidak diketahui takkan pernah bisa menyakiti?

Terkadang pada malam sepi, kukeluarkan pedangku dan kuhayati kebersamaan kami berdua. Kubayangkan pedang yang kini di tanganku merobek-robek jantung hati keluargaku. Kumulai dari suamiku. Di mana letak keindahannya jika pada akhirnya kebenaran terungkap tapi harus kubayar mahal dengan nyawa orang yang sangat kusayangi? Kuakhiri dengan ibuku. Di mana letak kesempurnaannya jika pada akhirnya kejujuran terangkat sebagai nilai terutama tapi harus kubayar mahal dengan sebilah pedang lagi yang tumbuh dan hidup di hati Mama?

Aku telah menelan pedangku, kembali membiarkannya meringkuk nyaman pada rahimku bagai bayi mungil nan lembut yang menyusu pada ibu. Kutunggu kedatangan Tuhan. Saat Dia kembali bertamu pada suatu senja, aku telah siap mengatakan pada-Nya bahwa telah kutemukan kebenaran sejati pada seni memiliki pedang. Berpedang bukanlah panggung penuh cahaya dan tepuk tangan. Berpedang bukan juga pelajaran tentang kebenaran dengan pengorbanan jiwa orang lain. Aku yakin Dia akan tersenyum, menghabiskan bolu kukus strawberiku dan secangkir teh manis, lalu berlalu dalam kesunyian lagi. Tapi kali itu, sungguh, aku akan menatap punggung-Nya dengan ikhlas, tanpa secarik keinginan untuk kelak membubuhkan racun pada teh-Nya di pertemuan kami selanjutnya.

@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007

One Comment »

  • rainforesto said:

    Lakhs, menyentuh dan bagus banget! Duhhh ngelus dada—-

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.