Home » Humaniora, Intermezzo

Pijat dan Lulur

12 June 2007 280 views 4 Comments

Oleh: Ratri M.

Kegiatan memanjakan diri buat kaum perempuan yang lumayan jadi favorit adalah pijat dan lulur. Sehabis capek beraktivitas seminggu penuh, membanting tumpukan kertas (d/h membanting tulang), dan meremas lembaran kertas-kertas (d/h memeras keringat), serta menekan-nekan keyboard penuh kebosanan (d/h memeras otak), maka kenikmatan mendapat pijatan di tubuh rasanya menjadi kemewahan yang luar biasa. Beragam cara untuk menikmati pijitan ini bisa dipilih, mulai dari pijat di panti pijat yang terkenal sebagai pijat kebugaran yang memiliki beberapa cabang antara lain di Mayestik, Pondok Indah, juga Menteng (berhubung tidak boleh beriklan maka lokasinya saja yang dijadikan acuan).

Perkenalan dengan tempat pijat kebugaran tersebut pertamakali justru melalui promosi dua teman perempuan bule Amerika yang saat itu itu sedang mengerjakan penelitian untuk tesisnya di Jakarta. Keduanya berceloteh dengan semangat menuturkan betapa nikmatnya dipijat di tempat itu kalau badan terasa pegal. ”Ini pijat betulan, bukan pijat nakal” seloroh salah seorang di antaranya. Nah karena promosi yang gencar itulah saya mulai mencobanya dan ternyata: Benar! Diri ini ikut kecanduan dipijat di tempat pijat kebugaran tersebut. Lalu menularkan ilmu kesenangan dipijat pada pasangan waktu itu, dan juga pada beberapa rekan kerja perempuan. Tentu saja maksudnya bukan untuk membesarkan nama panti pijat tersebut, namun lebih pada usaha mencari teman yang bisa bareng-bareng diajak pijat.

Maklum saja, kalau sendirian pasti tidak PD masuk ke panti pijat yang notabene masih menjadi favorit para pria tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kesukaan pijat kebugaran inipun berkembang menjadi pijat plus lulur, yah alih-alih menjaga kesehatan kulit juga. Namun tempat kebugaran tersebut tidak menawarkan paket lulur yang berkonotasi dengan upaya ”mempercantik”. Maka dimulailah ajang berburu tempat lulur yang asyik. Teman-teman kerja dan relasi pun menjadi narasumber utama untuk menemukan tempat pijat lulur dan spa yang enak namun harga pelayanannya tidak gila-gilaan. Ini jadi isu utama karena kebanyakan pijat lulur dan spa memasang tarif yang bisa membuat geleng-geleng kepala saking mahalnya.

Beberapa tempat ditemukan, dicoba, dibanding-bandingkan, dipuji-puji, namun juga dicela-cela di antara teman dan pasangan, kalau ternyata antara fasilitas dan harga yang ditawarkannya tidak sesuai. Namanya juga konsumen, yang boleh bermanja-manja dan mengkritik ini itu bila tak puas hati. Suatu hari, usai pindah ke rumah mungil milik sendiri, berakhirlah pencarian tempat lulur dan spa itu karena mendapatkan durian runtuh, kedatangan tante tukang lulur yang menawarkan jasa. Pagi-pagi dia mengetuk rumah, wajah orientalnya yang ramah langsung menawarkan untuk pijat lulur di rumah plus dengan no hp yang bisa dihubungi. ”Semua ibu-ibu di kompleks ini sudah tahu saya kok. Dijamin aman, nyaman, dan kapan saja siap,” dia berpromosi dengan gaya sangat akrab.

Tentu saja bujuk rayu itu pun harus diuji coba, setelah hampir sebulan pindah, dan memastikan memang sang tante ini benar-benar sudah sangat populer di kalangan ibu-ibu. Lalu jadilah diri ini salah seorang pelanggan setia pijit dan lulurnya sang tante yang meski sudah berusia hampir 60 tahun, tapi wajah dan tubuhnya seperti perempuan usia 40-an. ”Ini resepnya dari mamah saya, turun temurun. Banyak makan sayur, minum air putih, dan rajin luluran” ungkapnya cerdas (tetap kata lulur tidak bisa dia lepaskan begitu saja). Lalu bertuturlah sang tante ini tentang keunggulan bahan-bahan tradisional dan alami yang biasa diolah oleh nenek moyangnya di negeri tirai bambu.

Setelah mempromosikan segala hal resep yang patut dicoba, katanya, maka pembicaraan pun beralih ke soal-soal lain. Sang tante ini memang sangat suka berbicara panjang lebar, sambil tangannya dengan trampil melulur seluruh tubuh ini. ”Artis cantik itu badannya juga bagus karena rajin lulur sama saya,” pamernya tentang penyanyi yang kebetulan rumahnya di lingkungan kompleks yang sama. ”Tapi bu X, meski sudah rajin luluran ke saya, tapi kuat merokok, ya mukanya tetep aja kuyu,” celetuknya lagi tentang tetangga yang lain. Setelah itu mengalirlah gosip panjang lebar tentang ibu-ibu di kompleks yang menjadi pelanggannya maupun tidak, bisa saja ia membawa kabar berita.

Soal kebiasaan sang tante menggosip inilah yang sangat tidak disukai oleh adik saya, ”Nanti kita pun digosipin macem-macem deh”. Mengerti benar diri ini atas kekhawatiran si adik, tapi cara jitu tidak melebarkan gosip adalah pura-pura tidur, benar-benar ketiduran, atau hanya berkomentar, ”Oh ya”, Oh begitu ya”, atau paling bilang ”Ya sudahlah, orang kan beda-beda”. Biasanya cukup mujarab juga menahan laju gosip sang tante.

Tetapi kadang-kadang kemampuan gosip sang tante juga diperlukan saat kita membutuhkan pertahanan diri agar para tetangga tak perlu usil bertanya ke sana kemari. Contohnya saja dengan bercerita sambil lalu betapa sibuknya pekerjaan yang tengah digeluti ”Sampai-sampai arisan pun tidak bisa benar-benar rutin didatangi, sesekali terpaksa titip arisan ke tetangga. Padahal pengen banget rajin datang, seperti ibu-ibu lain”, berita ini pun segera beredar, dengan berbagai pengurangan dan penambahan teks yang intinya ”Oh Jeng Ratri memang sibuk ya, gak pa pa juga deh kalau titipin uang arisan.” Cukup mumpuni, kan?

Setelah itu pasangan pun diajak ikutan lulur, tapi karena memang bukan kategori hobi dilulur, maka dia pun hanya minta dipijat tanpa olesan bahan lulur tradisional. Sesungguhnya my partner sudah punya langganan tukang pijit yang biasa dipanggil ke rumahnya. Tukang pijatnya seorang nenek-nenek, yang kemudian di tahun berikutnya ketika nenek-nenek ini pindah rumah berganti menjadi seorang ibu-ibu, yang kebetulan lokasi rumahnya tak jauh dari rumah sang nenek pemijat tadi. Tapi rupanya my partner juga menyukai pijatan sang tante. Sehingga makin banyaklah pelanggan sang tante. Meski demikian, kalau sang tante sibuk dapat orderan (biasanya Sabtu dan Minggu lumayan padat, dan harus di-booking beberapa hari sebelumnya), maka alternatif mencari tempat lulur spa yang seperti biasa juga harus dilakukan. Jadi demi kenikmatan pijat dan lulur itu sendiri, maka sang tante pun terkadang harus sesaat dilupakan.

@Ratri M., SepociKopi, 2007

4 Comments »

  • bud said:

    menarik!

  • E said:

    halo sepoci kipi…. balas donk email saya =)

    duh kepenegen pijat juga nehhhhhhhhhh

  • Anonymous said:

    Aku senang banget luluran, apalagi kalau mbak pemijatnya pintar, pas bagian dada, perut dan bawah perut, rasanya gimana gitu …

    Rosita

  • novie said:

    hmmm..perlu di coba nihh…

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.