Home » Buku, Seni Budaya

GENOME – Ketika Homoseksualitas Dapat Disembuhkan

21 June 2007 271 views 2 Comments

Oleh: Lakhsmi

Buku ini yang berjudul lengkap Genome: The Authobiography in Species in 23 Chapters. Buku ini memberikan kegembiraan yang menyenangkan, informasi sains bernuansa filosofis kental yang tidak memberikan efek bingung atau kening berkerut.

Penulisnya bernama Matt Ridley, tinggal di Inggris. Mendapat gelar Ph.D terhormat dari University of Oxfort di bidang zoology. Tak lama dia memutuskan berkarir di bidang jurnalistik, sebagai koresponden sains di The Economist dan The Daily Telegraph. Selain menulis Genome (tahun 1999), dia juga menulis empat buku lainnya yang dimasukkan sebagai kategori ilmu sains populer. Buku-buku yang diterbitkan setelah Genome adalah Nature Via Nurture: Genes, Experience, And What Makes Us Human. Buku lainnya (tahun 2006) berjudul Francis Crick: Discoverer of the Genetic Code. Buku yang merupakan bagian dari seri “Eminent Life” ini diterbitkan oleh HarperCollins.

Genom manusia adalah seperangkat lengkap gen yang terdapat dalam 23 pasang kromosom yang terpisah-pisah. Dari semua ini, 22 pasangan diberi nomor berdasarkan urutan ukuran, dari yang nomor paling besar (satu) sampai yang paling kecil (22), serta sepasang sisanya terdiri atas kromosom seks: dua kromosom X yang besar pada perempuan, satu X dan satu Y pada lelaki. Seluruh buku ini mendedikasikan penjelasan ilmiah tapi sangat awam dan sederhana tentang cerita sepasang kromosom yang ada pada DNA kita. Bagaimana kromosom kita selama lebih dari 3 miliar tahun melakukan perjalanan panjangnya. Bab per bab mengajak para pembaca menapak tilas sejarah spesis kita sendiri berikut nenek-nenek moyangnya, sejak fajar kehidupan sampai datanganya peluang kedokteran masa depan.

Gen-gen yang ada dalam tubuh manusia sangat unik. Sangat unik sehingga membedakan manusia dengan simpanse. Sangat unik sehingga mengutuk kita dengan penyakit-penyakit yang mengerikan. Ada gen-gen yang memungkinkan kita bertatabahasa, gen-gen yang memunculkan paradoks kehendak bebas, serta gen-gen yang menunjukkan keistimewaan unsur bawaan dan pengaruh pengasuhan.

Membaca buku ini membuatku sangat terpesona. Bukan sekadar memahami bagaimana diri adalah manusia yang seutuhnya tapi juga mendapatkan pengetahuan tentang hidup. Hidup bukanlah sesautu yang mudah didefinisikan; tapi hidup terdiri atas dua keterampilan yang berbeda: kemampuan unutk melakukan replikasi dan kemampuan menciptakan urutan. Inilah yang kembali membuatku terpaku pada bab kromosom istimewa, yaitu kromosom X dan Y. Kromosom yang membentuk manusia menjadi perempuan atau lelaki.

Pada tahun 1993, Profesor Dean Harmer dan Simon LeVay menemukan satu gen di kromosom X yang memiliki pengaruh besar sekali pada orientasi seksual, atau yang oleh kalangan media disebut sebagai gen “gay”. Penelitian ini sangat bersifat objektif dan jelas. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa homoseksualitas sangat dapat diturunkan. Tapi persis seperti yang tertulis pada buku The Female Brain lelaki lebih mungkin menjadi seorang homoseksual dibandingkan perempuan.

Jika penelitian tentang genetik sungguh benar dan homoseksual disebabkan oleh kecenderungan bawaan dibandingkan tekanan kultural atau pilihan hidup secara sadar, maka terpikirkah kita semua apa yang terjadi di masa depan apabila The Genome Project dapat menghasilkan suatu teknologi supercanggih yang dapat melakukan terobosan untuk “memperbaiki” gen-gen manusia yang buruk? Ambil contoh, penyakit kanker. Kalau ilmuwan dapat mengubah gen pembawa “kanker” menjadi gen yang stabil dan tidak agresif “menciptakan” sel kanker, apakah ini berarti pembaruan dalam ilmu pengetahuan ataukah manusia sedang bermain menjadi Tuhan? Nah sekarang. Bayangkan jika gen “gay” dapat dikendalikan atau bahkan dihilangkan. Pertanyaan filosofisnya adalah: apakah kau mau di”sembuh”kan?

Jangan terlalu cepat menjawab,“No, thank you.” Pikirkan dalam-dalam. Renungkan. Mungkin ada buku-buku lain yang dapat menjelaskan tentang penelitian gen “gay” ini. Aku sendiri belum berhasil menemukan buku-buku ini, tapi jika ada pembaca yang telah mempunyainya, tolong izinkan aku dengan hormat untuk meminjam. Buku-buku ini berjudul The Science of Desire (Dean Hamer and Peter Copeland, diterbitkan oleh Simon and Schuster, 1995) serta A Separate Creation: How Biology Makes Us Gay (Chandler Burr, diterbitkan oleh Bantam Press, 1996).

Jika gen gay ini dapat diperbaiki, maka di masa depan tidak akan ada gay lagi di seluruh planet bumi. Para ibu-ibu hamil akan berbondong-bondong mengecek janinnya apakah gen gay-nya “hidup” atau “mati”. Para gay yang kepalang dilahirkan (mungkin) akan merasa semakin terasing karena semakin sedikitnya jumlah gay di planet bumi, sehingga suatu hari mereka memutuskan untuk melakukan tindak-relawan untuk mengubah struktur gen gay mereka. Inilah masa depan gay dalam bayanganku jika ilmuwan benar-benar berhasil membuktikan pengaruh gen gay ini pada umat manusia.

Yah, mungkin aku hanya terlalu sensitif atau memikirkan yang tidak-tidak. Jika kau menganggap apa yang kutanyakan dan kupikirkan adalah hal yang mengerikan, coba refleksikan satu poin lebih jauh lagi daripada hal itu. “Apa yang akan kulakukan jika aku tahu bayiku yang kukandung akan menjadi gay dan aku mempunyai kekuatan serta kemampuan untuk mengubah genetiknya?” Inilah masalah moral yang pelik, situasi filosofis yang rumit. Lagi pula, kepustakaan genetika dan biologi molekuler benar-benar bergerak cepat dan selalu ketinggalan zaman. Setiap kali buku, artikel, dan makalah diterbitkan, maka segera butuh koreksi atas pengetahuan baru. Mungkin saja saat aku mengetik resensi dan tulisan ini, aku telah salah mengudap sains.

Terlepas dari sejauh mana sekarang cabang-cabang ilmu genetik ini telah berkembang, kupasrahkan semuanya pada kehidupan. Seperti kata Alexander Pope, dalam bukunya yang terkenal An Essay On Man: Segala yang musnah adalah kebutuhan bagi yang lain, itulah sebabnya kita bergiliran lahir dan mati. Seperti gelembung-gelembung di laut berasal, mereka muncul, kemudian pecah, dan kepada laut mereka kembali.

@Lakhsmi, Sepocikopi, 2007

2 Comments »

  • Cassey said:

    Resensi yang bagus sekali. Buku ini sudah direkomendasikan Lakhsmi bertahun-tahun yang lalu tapi aku tidak sanggup membacanya. Sekarang menjadi sangat mudah dimengerti setelah diolah oleh tangan seorang ahli. Thanks, Lakhs. Akhirnya kesampaian juga aku membacanya.

  • cumi2 bakar said:

    he4, aq ngubek2 SK buat baca artikel ni (dulu pernah bca, wkt SK msh blogspot. gara2 aq baca jurnal Science ttg penelitiannya Hamer n Le Vay).
    mbak laksmi…mau dong bukunya…
    klo sekarang mengarah ke eugenetik, di mana lingkungan juga berpengaruh. Jadi masalah “sembuh”, bukan hanya me-retranslate kromosom Xq28 (yg katanya gay gene-tp blum terbukti) ja, tapi mungkin jg mngatur lingkungan sedemkian rupa.

    *maap panjang

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.