INI DIA, HIDUP – Life In A Box of Chocolate
Membaca novel “Ini Dia, Hidup” (Kebun Ide, 2004) mengingatkanku akan film Forrest Gump dengan ucapannya yang masyur: Life is like a box of chocolate. You’ll never know what you’ll get. Perjuangan para tokoh utama (semuanya gay) memberikan palet warna-warni yang mengejutkan pada setiap halaman. Entah sudah berapa kali aku membaca novel ini, aku tidak ingat. Ketika aku menjajal kerinduanku membaca ulang, ternyata aku tetap berakhir sebagaimana aku selalu berakhir: dada terasa sesak dan air mata pelan-pelan merebak.
Sepanjang tahun 2000, hanya dua novel gay lokal yang berhasil kubaca tuntas. Lokal maksudnya pengarangnya adalah penulis Indonesia. Novel pertama adalah “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana. Dan novel kedua adalah novel “Ini Dia, Hidup”. Dua novel ini mengukuhkan keberanian para penulisnya yang kuanggap mempunya nyali cukup besar untuk memberikan suara yang berbeda di tengah lautan fiksi Indonesia.
Ditulis dengan gaya bahasa yang lembut dan penuh metafora, Ezinky, sang pengarang – pada peluncuran bukunya di Utan Kayu tanggal 12 Desember 2004 mengaku mendapat banyak bantuan dan bimbingan dari para editornya. Saat itu, sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Ezinky menjelaskan bahwa ini adalah novel perdananya. Pada awal halaman buku, penerbit memberikan sekelumit catatan dan harapan tentang keberadaan novel ini di masa depan, bahwa “Ini Dia, Hidup” diangankan mempermudah jalan menuju kebangkitan fiksi bergenre khusus “sastra gay” di Indonesia.
“Ini Dia, Hidup” setidaknya memberikan semangat positif bahwa masih ada penulis lokal mumpuni yang sanggup mengangkat realitas hidup kaum homoseksual dengan gaya bahasa yang indah, penceritaan yang mengalir, serta penggambaran stereotype tokoh-tokoh homoseksual yang tidak cengeng khas pencinta sesama jenis. Novel-novel LGBT lainnya yang masih menenggelamkan diri dalam kubangan sumpah serapah, keluh kesah, dan penyesalan nasib membuatku tidak sanggup membalik halaman lebih dari sepuluh. Masih ada lagi novel-novel homoseksual yang ditulis dengan gaya bahasa yang miskin atau alur cerita yang tidak masuk akal karena hanya sekadar ingin berakhir “bahagia”. Karya seperti itu tidak mampu menciptakan pelangi khazanah sastra Indonesia atau melegitkan selera baca kaum homoseksual terhadap sastra-gay. Sungguh memprihatikan bahwa platform keberadaan novel-novel tersebut hanya karena “sekadar ingin ada” daripada “tidak ada sama sekali”.
Untunglah, “Ini Dia, Hidup” membuktikan diri sebagai salah satu novel LGBT yang sanggup menorehkan catatan sejarah dalam pesona kolam keindahan sastra Indonesia.
Haikal Azad – seorang eksekutif sukses – suatu pagi berkenalan dengan Adam Krisanto, lelaki berseragam satpam, penjaga gedung kantor. Pertemuan tersebut mulanya diawali dengan jabatan persahabatan, dilanjutkan dengan kedekatan yang semakin ganjil, sehingga akhirnya menjadi sepasang kekasih. Haikal, mendapat tekanan dari ayahnya, Shah Azab, juragan Arab kaya raya beristri tiga dan beranak enam belas, untuk segera mencari istri agar dapat melanjutkan garis keturunan dan estafet kejayaan keluarga besar. Adam sendiri seorang anak petani di Klaten yang tumbuh di rumah sangat sederhana sebagai bocah kecil yang senang mengejar layangan. Saat remaja, dia sempat jatuh cinta dengan seorang gadis kecil bernama Marni, anak Pak Paiman. Sayangnya perempuan itu menikah pada usia 19 tahun, meninggalkan Adam pada kenangan yang tidak membahagiakan.
Kilby Delizea, lelaki yang tinggal di Selandia Baru, setengah Indonesia setengah berdarah Maori. Sejak kecil kehilangan ibu tercinta, dibesarkan oleh ayahnya, Nui Hakapoua. Sejak paragraf pertama, keindahan pemandangan Selandia Baru yang dipaparkan dengan sangat lembut telah mencuri perhatianku.
…Kilby lahir pada hari ketujuh September 1979 saat dedaunan Kahikatea meranum dan mahkota Edelweis bermekaran. Musim semi yang ungu dengan buah-buah mapou seolah ingin membujuk Nui untuk tersenyum saat setiap pagi ia membawa bayi kecilnya untuk menghirup udara segar di savana yang terhampar tak jauh dari tempat tinggal mereka. Dan, nama bayi itu, Kilby Delizea, diambil dari bahasa Italia yang berarti kesukacitaan di awal musim semi… (hal. 6)
Seth, seorang lelaki tanpa nama belakang, bertemu dengan Kilby tanpa sengaja pada pameran foto di galeri Arts Center. Seketika lelaki itu terpesona pada kehadiran Kilby, entah kenapa. Seakan-akan Seth melihat malaikat yang hadir memberikan setangkup kebahagiaan saat itu juga. Masa lalu Seth yang gelap diawali ketika dia masih dalam kandungan. Ibunya seorang pelacur yang bahkan tak mengenal lelaki yang menghamilinya. Ketika bertemu dengan Kilby, Seth ternyata menyimpan virus HIV di dalam tubuhnya. Apa yang akan mereka lakukan ketika pada akhirnya limfosit T4 Seth mulai berkurang drastis, yang berarti perjalanan menuju fase AIDS telah dimulai?
Hubungan Haikal dan Adam mendapat tantangan ketika masa lalu Haikal perlahan menyelinap. Toro, sahabat erat dan obsesi indah masa remaja Haikal, tiba-tiba hadir kembali, menggodanya. Hasrat daging pun menggelora, menyisihkan konsep kesetiaan ke pojok laci paling dalam. Ketika mengetahui hal ini, Adam sakit hati; terluka parah, dan meninggalkan kekasihnya selama berbulan-bulan untuk menentukan masa depannya: menikah ataukah tidak. Haikal didera rasa sepi, bersalah, dan penuh penyesalan. Melalui proses pergulatan batin di dua tempat yang berbeda, Haikal dan Adam mengambil keputusan.
Sementara ribuan kilometer jauhnya, Kilby telah menentukan ke mana cintanya berlabuh. Konsekuensi akibat dan masa depan menggelap perlahan seperti pintu yang menutup, sehingga mau tak mau Kilby harus menanggung dengan ikhlas dan anggun. Dia yang mencintai kanak-kanak dan bekerja di sekolah privat St. Patrick mendapat tantangan ketika kehidupan pribadinya menyeruak keluar dari wilayah teritorinya. Seluruh rekan kerja, orangtua murid, dan para tetangga mengambil sikap saat mereka mengetahui Kilby seorang homoseksual dan tinggal bersama dengan lelaki homoseksual yang menderita AIDS. Bersama Seth yang ingin tetap berkarya dan bekerja di tengah masyarakat, mereka menghadapi dunia.
“Kau pekerja terbaikku, Seth, kenapa ini terjadi padamu?”
Seth tidak menjawab, sebab ia sendiri tak tahu jawabannya. Lalu Kilby berbicara.
“Sebab dia akan mengajarkan kebijaksanaan.”
Kedua lelaki itu menoleh kepada Kilby.
“Seth telah memberi makna sebenarnya dari menghargai hidup. Bila orang-orang mau mengerti dan membuka mata hati, mereka juga akan menemukan hal yang sama.” (hal. 203)
Dua pasang kekasih – Haikal dan Adam, Kilby dan Seth – melangkah dengan gagap pada mulanya; langkah-langkah gemetar yang membawa mereka pada metamorfosa pembentukan identitas diri yang baru. Identitas yang lebih kuat, optimis, dan penuh percaya diri. Suatu perjalanan panjang penuh liku dengan keindahan yang bermuara pada cinta serta kebahagiaan. Dua cerita saling belit membelit, akhirnya dipertemukan dalam satu belanga. Tanpa kehadiran Haikal dalam hidup Adam, Adam tidak akan pernah menjadi Adam yang berakhir penuh kebahagiaan. Tanpa kehadiran Seth yang mendadak di hidup Kilby, Kilby takkan pernah mengerti anugerah hidup itu sendiri. Sungguh, life is like a box of chocolate. You’ll never know what you’ll get.
“Ini Dia, Hidup” adalah novel yang memberikan setetes kesegaran tentang arti manusia sebagai seorang homoseksual. Karena menjadi gay, ternyata bukan semata masalah pilihan. Menjadi gay, adalah perjalanan panjang mencari relung terjujur pada jiwa yang rindu mendeklarasikan keberadaannya. Dan bersama Haikal, Adam, Kilby, da
n Seth, pembaca diajak untuk melakukan napak tilas tersebut, bercermin, dan berani mengepakkan sayap untuk mengungkapkan satu kebenaran yang paling murni. Tanpa ada keberanian untuk mencoba, tidak ada yang tahu apa dan bagaimana yang terjadi selanjutnya.
@Lakhsmi, SepociKopi, 2007















Terima kasih untuk review-nya. Saya sudah kehilangan jejak keberadaan Ini Dia, Hidup. Distribusinya nggak jelas. Tau-tau, sudah ada di 12 perpustakaan seluruh dunia. ^^
Leave your response!