Gerhana Bulan dan Alena
Aku duduk menghadap jendela sebelah timur kamar tidur, mempertontonkan wajah di temaram senja. Bulan gerhana memerah sempurna, tapi tak menghilangkan roman bulan yang membundar apik. Dalam remang-remang pucuk pohon terlihat hijau cermerlang sedikit terbumbui jatuhnya sinar langit yang semakin meredup. Teleskop sudah bolak-balik mencari bulan dengan lelah, namun tampaknya sia-sia mengintipnya di bawah jendela kamar tidur, karena cahaya lampu dari atap rumah memudarkan kekuatan lensa. Akhirnya aku menatap bulan dengan mata telanjang. Sambil menikmati gerhana, pikiran pulang ke belakang jauh.
Ketika usia masih belia, gerhana yang sama menghampiri, bedanya malam itu dinginnya menggetarkan tulang, deretan gigi bergesekan, membuat telinga terasa ngilu dan nyeri akibat angin yang bertiup tak stabil, terkadang kencang, kemudian melemah. Berada di atas bukit, malam hari, saat suhu semakin menurun drastis membuat pucuk hidung membeku, sementara beberapa teman sambil menikmati bulan dalam kegelapan di ujung lensa teleskop bolak balik memastikan aku tak lagi kedinginan dengan meminjamkan barang-barang penghangat mereka. Aku tahu di antaranya ada yang berbisik kecil dengan dialek yang ketus, “Dasar orang Asia bertubuh kurus dan kecil, mudah-mudahan dia tidak mati kedinginan.”
Aku melihatnya sambil tersenyum pahit, karena tak diizinkan menghidupkan cahaya apa pun takut mengganggu pandangan bulan yang diintip melalui teleskop, mataku menjadi awas dalam kegelapan melototi semua teman yang tersebar di atas padang rumput liar. Bersamaan dengan rasa beku di ujung jemari, aku berusaha membuat diri tegar oleh rasa dingin. Untuk menghibur hati kunikmati ocehan Alena, seorang teman asal Yunani. Dia yang paling jadi perhatian di antara semua orang di sana. Tutur katanya yang lembut beberapa kali mengingatkanku pada mantan pacar yang saat itu baru saja mengkhianatiku.
Aku bertanya padanya, “Kenapa namamu Alena?” Ia bilang Alena dalam bahasa Yunani berarti kecantikan yang bercahaya. “Aku melihat kamu cantik dengan wajah yang selalu bercahaya,” jawabku. Dia tertawa, sungguh aku suka mendengar tawanya yang lepas. “Nama itu sangat menggambarkan dirimu.” Kataku pelan, namun selembut apapun suara, semua yang ada di sana mampu mendengarnya. Kemudian mengiyakan komentar tentang arti nama Alena. Akhirnya sisa waktu melihat gerhana kami membahas arti nama-nama. Teman-teman tertawa keras ketika dengan susah payah kueja kata DI- YO- TRE- PHES, marga Diotrephes yang mengikuti nama asli Alena. Salah seorang guru yang menemani kami malam itu pun geli saat mencoba mengucapkan kata-kata bahasa Indonesia, seperti gerhana bulan yang dibacanya dengan G U H A N A BU LL A N.
Ketika tertawa, rasa dingin sama sekali tak terasa. Namun beberapa menit kemudian badan kembali meraung-raung lagi minta diselimuti. Aku tak menyiapkan diri cukup hangat malam itu karena tak tahu akan melihat gerhana di alam bebas. Melihatku semakin mengigil Alena meminjamkan syalnya yang tebal, ”Aku tahu ini syal musim dingin tidak cocok dipakai saat ini, namun di malam hari di tengah alam terbuka begini sangat nyaman di badan.” Aku sedikit tertolong dengan syal tersebut sehingga badan menghangat, dan hati terasa lebih hangat lagi menyadari ada sesuatu yang kusukai dari Alena, membuat gerhana bulan malam itu terasa semakin indah.
Aku menjadi bersemangat antre bergantian menggunakan teleskop, setiap bulan bergeser dengan cepat akibat gerakan rotasi bumi, beberapa teman mengingatkanku untuk mengikuti gerakan teleskop kembali ke arah bulan. Aku semakin sadar betapa waktu begitu cepat berjalan, tanpa teleskop itu sulit rasanya merasakan pergerakan bumi. Hari itu pertama kali aku belajar menerima kenyataan bahwa bumi benar-benar bergerak dengan cepat, karena cepatnya manusia tak merasakan pergerakan itu. Tuhan mahabesar, melihat bulan gelap secara perlahan aku berdoa, ketika mendengar suara Alena mengomentari gerhana bulan hatiku pun ikut berdoa. Perempuan… betapa mereka sosok yang menenangkan hati.
Bisa dibayangkan sejak gerhana itu aku sangat candu melihat Alena. Mulai pagi tiba di kelas, kemudian ketika jam istirahat hingga menjelang pulang, aku selalu berusaha untuk mengajaknya mengobrol, hatiku yang masih muda dan pengecut hanya mampu menikmati Alena sebatas itu semua. Aku takut mendekatinya lebih jauh, yakin dia pasti akan menjaga jarak jika mengetahui di usia seperti itu, aku bukan hanya menyukai makhluk berpayudara yang sama dengan dirinya, bahkan sudah memiliki mereka sebagai kekasih dan baru saja patah hati. Alena benar benar menjadi cahaya setiap hari, aku kerap mencuri lihat padanya, mencoba berdekatan dengannya setiap ada waktu, meski aku tahu perasaanku paska gerhana itu hanya tumbuh sendirian.
Aku tersadar dari kenangan tentang Alena dan gerhana ketika anakku menyalakan lampu kamar, ia bilang gerhana lebih mudah dilihat di halaman belakang dan lampu di sekelilingnya dimatikan. Bukannya beranjak ke sana, aku malah mengambil wudhu, sholat gerhana bulan dua rakaat, kemudian berdoa cukup lama.
“Tuhan aku melihat kekuatan-Mu di dalam gerhana, di tengah keremangan malam dengan mata telanjang. Jika Engkau izinkan, aku ingin melihat keagungan-Mu dalam fenomena bulan yang lain bersama orang yang sangat kucintai di bawah kaki Ka’bah, di tangga Borobudur, di bawah langit Pura indah di Bali, di Piazza Maggiore, Palazzo Thiene, Notre Dame Du Haut, Kuil Doric Segesta, dan mengintipnya dari jendela besar Pantheon Roma. Rabb… buatlah diriku untuk selalu ikhlas dengan semua takdir-Mu.”
Setelah berdoa lamunan kembali pada makna Alena, raut indah yang selalu bercahaya, roman muka itu kini bukan hanya bisa terlihat di wajah seseorang, malah sudah tahunan menjadi milikku. Ia tak pernah marah atau menjauh meski mengetahui statusku yang sudah menikah dengan seorang pria, dan masih kusyukuri setiap hari caranya mencintai aku, anakku, dan keluarga yang ia lakukan dengan setulus hati.
@Ade Rain, SepociKopi, 2007















biasanya rain nulis pesannya banyak, yang ini pesannya apa sih?
Leave your response!