Jangan Takut Jika Harus Sendiri
Sekali lagi, ini tentang KDRT. Tidak bosan-bosannya kita akan membahas tentang hal ini karena ini satu sisi yang paling perih dari hubungan kasih. Yaitu saat orang yang kita cintai memilih untuk menyakiti kita lebih dari dia menyayangi kita. Baik kekerasan fisik maupun verbal, keduanya sama merusaknya, atau bahkan banyak yang menggabungkan dua jenis kekerasan ini, amat menyakitkan.
Saya baru saja pulang dari luar kota, di mana saya menjadi saksi dari hal ini. Ada sepasang kekasih butchie dan femme, sebutlah namanya Miko dan Ani. Miko adalah teman lama saya sejak SMA, salah satu my treasured people, saya menyayanginya. Miko secara fisik terlihat perkasa, kuat, dan gagah. Tapi hatinya lembut dan sungguh penyayang. Dia cukup lama berhubungan dengan Ani, femme, teman kuliahnya dulu.
Sejak awal memang hubungan itu tidak sehat. Ani promiscuous, Miko one person person. Ani memiliki banyak pasangan laki-laki, baik tetap maupun tidak tetap. Miko tetap mencoba setia, menerima apa adanya, menerima bahwa suatu hari nanti dia akan melepas Ani pergi untuk menikah dengan laki-laki. Ini titik lemahnya. Miko menjadi permisif, walau tentunya dengan terpaksa, terhadap sepak terjang Ani di dunia perlaki-lakian. Yang ternyata kiprah Ani bukan hanya untuk tujuan mulia manusia pro reproduction, tapi juga, sebagian besar, pro pleasure.
Miko berlapang dada dengan hal itu, dia sangat mencintai Ani, dan celakanya, hal ini sangat disadari Ani. Ani lalu melakukan hal-hal yang memang akan dilakukan bila seseorang merasa di atas angin. Dia melampiaskan semua emosi nagatif kepada Miko. Dia menyiksa batin Miko dengan datang dan pergi sesukanya, menyiksa Miko dengan kata-kata pahit, dan yang terakhir, menyiksa Miko secara fisik dengan memukul. Ironis sekali, padahal bila Miko mau, sekali dia balas memukul, Ani akan mendapat akibat yang fatal. Karena Miko tidak membalas, Ani semakin brutal, dan terakhir, dia memukul Miko sampai pingsan, karena tepat telak di bagian kepala yang paling ringkih.
Yang saya ingin sampaikan adalah, cobalah untuk memilih pasangan dengan bijak. Jika sebelum resmi jadi pasangan kita sudah tahu bahwa dia memiliki sejarah suka menyiksa, kalau bisa janganlah dilanjutkan. Atau jika dalam suatu hubungan pasangan kita mulai menyiksa, segeralah pergi. Kalau dia memukul Anda sekali saja, dia akan memukul Anda lagi. Kita semua berhak dicintai, dan orang yang mencintai kita bahkan akan rela menggantikan kita menderita, bukan menciptakan penderitaan baru buat kita. Jangan berpikir bahwa Anda bisa mangubah seseorang, karena tidak mungkin. Sekali kita sudah memilih, kita harus merasa nyaman baik dengan kelebihan maupun kekurangannya. Dan sifat suka menyiksa adalah bukan sifat yang harus ditolerir. Satu langkah untuk Anda: pergi.
Sebenarnya saya merasa aneh, banyak sekali dalam kasus KDRT seperti ini, baik pasangan lesbian maupun straight, pihak yang disiksa sepertinya sangat sulit meninggalkan pasangannya yang suka menyiksa ini. Dia hanya khilaf, dia minta maaf samapi menangis, dia berjanji untuk tidak mengulanginya, dan berbagai macam alasan lainnya. Saya sempat berpikir, apakah ini semangat martir, semangat rela berkorban demi cinta. Satu pesan saya: mohon dibedakan antara rela berkorban dengan menipu diri.
Dari semua alasan mengapa para korban KDRT sering sulit meninggalkan pasangannya sebenarnya bisa dibilang bersumber dari keinginan bawah sadar untuk tidak ingin sendirian. Oh rasanya seperti mau mati bila berpisah darinya, misalnya begitu ungkapannya. Itu kan hanya rasanya. Tidak ada orang yang jatuh dan mati seketika akibat harus meninggalkan pasangan yang masih dicintainya. Sayangilah diri Anda terlebih dahulu sebelum berharap disayangi orang lain secara pantas. Hargailah diri Anda sendiri, Anda manusia penuh martabat, tidak ada seorang pun yang boleh merendahkan diri Anda dengan segala siksaannya.
Jangan takut jika harus sendiri. Jika kita nyaman dengan kesendirian kita, merasa penuh dan lengkap secara pribadi, kita akan memancarkan aura bahagia. Aura bahagia yang positif itu akan ditangkap oleh orang-orang yang positif juga, orang-orang yang akan mampu mencintai dan menghargai Anda dengan pantas. Jika sudah terjebak dalam hubungan yang abusive, beranikan diri untuk pergi. Lebih baik sendiri saja dulu, menata kembali hidup dan jiwa, sambil terus menantikan datangnya orang-orang baik dalam hidup kita. Bila Anda percaya kepada Tuhan, berdoalah. Bila lidah rasanya tidak mempu berucap, setetes air mata pun sudah merupakan doa. Dengan segala kerendahan hati saya mengajak: marilah percaya, segala sesuatunya akan baik adanya.
@Nat, SepociKopi, 2007















kangen tulisan nat…nulis terus ya
Leave your response!