Home » Humaniora, Opini

Sayang, Bikin Anak Yuk

10 September 2007 62 views 4 Comments

Oleh: Bening

Malam sudah semakin tua, beranjak dini hari. Namun mata masih enggan untuk terpejam. Kamu sudah tidur sejak tadi, naik ke ranjang dengan kepala berat dan tubuh yang letih. Ingin sekali rasanya meredakan penatmu dengan sedikit pijatan, tapi kusadar itu hanya sebatas keinginan, tubuhku dan juga pikiranku sedang tidak bisa diajak kompromi untuk bersantai. Begitu banyak hal yang berjejalan di dalam kepala membuat hasrat untuk bermesra menguap entah ke mana.

Aku merindukamu… sangat rindu. Kamu kan tau, rindu hadir tak peduli meski engkau hanya sejengkal di sampingku.

Hal ini bukan baru ini saja terjadi, aku selalu takut kesibukan membuatkan aku dan kamu semakin terbiasa berjalan sendiri. Membuat aku dan kamu tidak memiliki momen untuk bersama.
Hidup mengalir tenang. Hanya ada ceritaku, ceritamu. Aku takut semakin tak ada cerita yang bisa kita tuturkan tentang kita, atau tentang sesuatu yang selalu membuat mata kita sama berbinar olehnya, tentang anak kita, misalnya…

Saat aku cerita tentang lelahku, lelahmu juga begitu. Tak ada hal yang membuat lepas lelah kita pada saat yang sama. Aku kerap melihat seorang anak memiliki keajaiban yang mampu menyihir lelah orangtuanya menjadi tenaga, menyihir pedih menjadi sukacita. Dan aku menginginkannya.

Saat engkau gundah, pelukku menenangkanmu. Saat aku gamang dekapanmu membuatku tenang. Tapi saat kita sama-sama resah, tak ada ramuan yang sekejap menyembuhkan sebagaimana ramuan yang dimiliki seorang anak lewat ocehan cadelnya, bening matanya atau damai lelap tidurnya yang membuat kita yakin hidup dan hari esok akan tiba sebagai anugerah, tak ada yang perlu kita cemaskan.

Kita pernah baik-baik saja dalam bersendiri, tapi kehadiran satu sama lain membuat hidup kita lebih indah dan lebih utuh. Ternyata berdua jauh lebih baik. Dan kini, tiba-tiba aku merasa inginkan seorang malaikat kecil, membuat lengkap jiwa kita dari dua menjadi tiga, membuat dunia kita lebih ceria dengan tangis dan tawanya.
Sayang, bikin anak yuk…
:(
Serius….

@Bening, SepociKopi, 2007

4 Comments »

  • sulis.heart said:

    Bening, saya pun mengalami dilema yang sama. Rindu memiliki anak, inginnya dari rahim sendiri, tapi bahkan adopsi pun urusannya tidak semudah itu. Sedih. Ini menunjukkan bahwa pada satu titik, kita terpanggil untuk menjadi ibu. Panggilan alam itu sangat kuat untuk dicuekin. Ya ngga?

  • Anonymous said:

    Auuuuggghhh aku juga pengin punya anak!!!! Hiks hiks hiks.. tulisan Bening kayak nyontek perasaanku neh..

  • Anonymous said:

    dear mba bening, tulisan yang jujur dan mengena. topik yang nggak pernah disentuh, diangkat, dibicarakan, dan didiskusikan oleh komunitas lesbian indonesia. topik yang dianggap angin lalu kali yee oleh para aktifis lesbian di luar sana. partnerku dan aku udah hidup bersama selama 9 tahun, umurku telah mendekati 40 tahun, dan sekarang pasanganku ingiiiin sekali mempunyai anak. terkadang hati kami cemburu melihat pasangan hetero muda yang mendorong kereta bayi di mal. mungkin tahun depan insya allah kami akan adopsi seorang anak jika semuanya memungkinkan. -chil

  • Anonymous said:

    Untuk Sulis.Heart : Setuju banget! panggilan itu seperti bertalu dalam hati dan kepala. Semakin kita tutup mata dan telinga semakin jelas panggilannya ;)

    Untuk Anonymous : Hah? emang perasaan bisa dicontek? hi hi hi. Mungkin karena kita sama-sama perempuan, jadi perasaannya juga nggak jauh beda.

    Untuk chil : aku kagum sama kamu dan pasangan yang bisa langgeng menjalani hubungan kalian. Buat aku dan pasangan hal ini juga pembicaraan sensitif, karena berkaitan dengan banyak hal-hal besar dengan konsekuensi yang tidak ringan. Tapi tentu tidak bisa menutupi bahwa satu sisi hati menginginkannya. Salam kenal ya chil, boleh kenalan? Thx

    Bening

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.