Sayang, Bikin Anak Yuk
Malam sudah semakin tua, beranjak dini hari. Namun mata masih enggan untuk terpejam. Kamu sudah tidur sejak tadi, naik ke ranjang dengan kepala berat dan tubuh yang letih. Ingin sekali rasanya meredakan penatmu dengan sedikit pijatan, tapi kusadar itu hanya sebatas keinginan, tubuhku dan juga pikiranku sedang tidak bisa diajak kompromi untuk bersantai. Begitu banyak hal yang berjejalan di dalam kepala membuat hasrat untuk bermesra menguap entah ke mana.
Aku merindukamu… sangat rindu. Kamu kan tau, rindu hadir tak peduli meski engkau hanya sejengkal di sampingku.
Hal ini bukan baru ini saja terjadi, aku selalu takut kesibukan membuatkan aku dan kamu semakin terbiasa berjalan sendiri. Membuat aku dan kamu tidak memiliki momen untuk bersama.
Hidup mengalir tenang. Hanya ada ceritaku, ceritamu. Aku takut semakin tak ada cerita yang bisa kita tuturkan tentang kita, atau tentang sesuatu yang selalu membuat mata kita sama berbinar olehnya, tentang anak kita, misalnya…
Saat aku cerita tentang lelahku, lelahmu juga begitu. Tak ada hal yang membuat lepas lelah kita pada saat yang sama. Aku kerap melihat seorang anak memiliki keajaiban yang mampu menyihir lelah orangtuanya menjadi tenaga, menyihir pedih menjadi sukacita. Dan aku menginginkannya.
Saat engkau gundah, pelukku menenangkanmu. Saat aku gamang dekapanmu membuatku tenang. Tapi saat kita sama-sama resah, tak ada ramuan yang sekejap menyembuhkan sebagaimana ramuan yang dimiliki seorang anak lewat ocehan cadelnya, bening matanya atau damai lelap tidurnya yang membuat kita yakin hidup dan hari esok akan tiba sebagai anugerah, tak ada yang perlu kita cemaskan.
Kita pernah baik-baik saja dalam bersendiri, tapi kehadiran satu sama lain membuat hidup kita lebih indah dan lebih utuh. Ternyata berdua jauh lebih baik. Dan kini, tiba-tiba aku merasa inginkan seorang malaikat kecil, membuat lengkap jiwa kita dari dua menjadi tiga, membuat dunia kita lebih ceria dengan tangis dan tawanya.
Sayang, bikin anak yuk…
Serius….
@Bening, SepociKopi, 2007










Bening, saya pun mengalami dilema yang sama. Rindu memiliki anak, inginnya dari rahim sendiri, tapi bahkan adopsi pun urusannya tidak semudah itu. Sedih. Ini menunjukkan bahwa pada satu titik, kita terpanggil untuk menjadi ibu. Panggilan alam itu sangat kuat untuk dicuekin. Ya ngga?
Auuuuggghhh aku juga pengin punya anak!!!! Hiks hiks hiks.. tulisan Bening kayak nyontek perasaanku neh..
dear mba bening, tulisan yang jujur dan mengena. topik yang nggak pernah disentuh, diangkat, dibicarakan, dan didiskusikan oleh komunitas lesbian indonesia. topik yang dianggap angin lalu kali yee oleh para aktifis lesbian di luar sana. partnerku dan aku udah hidup bersama selama 9 tahun, umurku telah mendekati 40 tahun, dan sekarang pasanganku ingiiiin sekali mempunyai anak. terkadang hati kami cemburu melihat pasangan hetero muda yang mendorong kereta bayi di mal. mungkin tahun depan insya allah kami akan adopsi seorang anak jika semuanya memungkinkan. -chil
Untuk Sulis.Heart : Setuju banget! panggilan itu seperti bertalu dalam hati dan kepala. Semakin kita tutup mata dan telinga semakin jelas panggilannya
Untuk Anonymous : Hah? emang perasaan bisa dicontek? hi hi hi. Mungkin karena kita sama-sama perempuan, jadi perasaannya juga nggak jauh beda.
Untuk chil : aku kagum sama kamu dan pasangan yang bisa langgeng menjalani hubungan kalian. Buat aku dan pasangan hal ini juga pembicaraan sensitif, karena berkaitan dengan banyak hal-hal besar dengan konsekuensi yang tidak ringan. Tapi tentu tidak bisa menutupi bahwa satu sisi hati menginginkannya. Salam kenal ya chil, boleh kenalan? Thx
Bening
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 64 queries. 0.805 seconds.