Kuntum Luruh
Beranjak dewasa, ketika aku mulai mengadu nasib di luar kota, aku menemukan ternyata sebagian dari sahabatku mempunyai perbedaan yang serupa. Berdasarkan kisah cinta mereka, aku mendapat keberanian untuk mulai mendekati sosok gadis yang selama ini selalu aku puja.
Awalnya dia tidak mempunyai perasaan yang sama, dia hanya menganggap aku sebagai kakak. Namun seiring berjalannya waktu dan karena gigihnya perjuanganku, perlahan gadis yang aku puja mulai menunjukan gelagat yang sama. Berkat kesabaranku dalam meluluhkan keteguhan hatinya, tidak sampai satu bulan, akhirnya dia membalas menggenggam erat uluran kasih yang aku tawarkan.
Sembilan tahun kami menjalani hidup bersama dengan penuh rasa bahagia.
Ya. Sembilan tahun.
Komitmen kami yang tidak saling mengekang kebebasan dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan telah membuat tahun-tahun yang kami jalani begitu terasa sangat nyaman dan melenakan. Meski tak jarang ada perbedaan-perbedaan kecil yang menimbulkan rasa sensi di hati kami. Namun semua itu malah semakin membuat kami tidak dapat terpisahkan. Virus ketergantungan mewarnai hubungan kami.
Walau begitu, kerahasiahan hubungan kami tetap tersimpan dengan sangat rapi. Keakraban kami di mata keluarga besar membuat mereka percaya kalau kebersamaan itu memang wajar adanya, layaknya hubungan antar saudara.
Seiring bertambahnya usia, satu per satu masalah mulai muncul. Pertanyaan demi pertanyaan mulai memojokkan status kesendirian kami. Di mata keluarga, kami dianggap sudah sangat matang untuk membina satu keluarga yang ”sebenarnya”.
Tekanan yang lebih besar muncul dari keluarga besarku. Di usiaku yang sudah menginjak kepala tiga dan di antara enam bersaudara, tinggal aku sendiri yang masih tetap mempertahankan kelajanganku. Meski aku selalu berkelit dengan berdalih belum menemukan calon pasangan yang sesuai, namun lama kelamaan mereka mulai curiga pada kedekatanku dengan partner, yang memang selalu aku manjakan.
Segala cara mereka lancarkan, agar aku bersedia untuk segera berumah tangga. Mulai dari pembahasan di dalam keluarga seputar pembukaan aura jodohku sampai bantuan orang-orang yang dianggap bisa mengusir ”bala” pada hubungan kami, yang mulai dianggap sudah di luar batas kewajaran.
Berdasarkan informasi dari salah satu saudara yang pro pada kedekatan kami, ternyata keluarga besarku mulai menimpakan kesalahan ”kesendirianku” pada partner, yang sebelumnya sudah mereka perlakukan sebagai anggota keluarga sendiri. Tanpa sepengetahuanku, mereka meminta partner untuk mulai mengurangi porsi kebersamaan kami. Partner sama sekali tidak pernah mengutarakan hal ini kepadaku. Dia hanya mengambil sikap diam, dan selalu menolak apabila aku ajak mengunjungi orang tuaku.
Berawal dari dilema yang terus-menerus mewarnai hubungan kami, perlahan keterbukaan di antara kami mulai berkurang. Meski masih bersama, namun kami menjadi semakin jarang berbicara, terutama kalau sudah menyangkut masalah keluarga. Sampai pada akhirnya secara terang-terangan partner mulai mencoba menjalin hubungan dengan seorang pria asing, yang notabene adalah salah satu customer di perusahaan tempat kami bekerja.
Mengetahui hal tersebut, aku benar-benar merasa terpukul. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah pelariannya tersebut. Aku sangat memahami perasaan sakit hati partner akibat tudingan yang dilancarkan oleh keluargaku. Sepertinya dia ingin membuktikan pada keluargaku kalau kebersamaan kami ini bukan lantaran dia sudah tidak dilirik oleh lawan jenis.
Tiga bulan partner menjalin hubungan dengan pria asing customer kami tersebut. Dan selama itu pula rahasia demi rahasia mulai mewarnai kebersamaan kami. Perlahan, kepercayaan di antara kami mulai memudar.
Pada suatu malam seorang pria asing yang dikenalnya melalui salah satu Friendster, datang bertamu ke rumah kami. Dia sengaja datang dari negaranya, untuk berkencan dengan partner. Singkat cerita mereka pergi berkencan ke daerah pantai yang letaknya berada di ujung ibu kota. Malam itu aku masih tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ketika mereka pamit pun, aku hanya sanggup mengecup kening partner serta berpesan untuk hati-hati dalam menjaga diri. Saat itu partner hanya tersenyum. Sepintas kulihat sorot matanya begitu berbeda, seolah ada kabut yang menyelimuti cerianya.
Sepeninggal mereka, aku langsung terpuruk luruh di dalam sepinya kamarku. Aku benar-benar merasa menjadi pecundang karena tak mampu lagi menghibur dan melindungi orang yang sangat aku sayang. Semenjak saat itu aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri dan perlahan-lahan kehilangan rasa percaya diri.
Hampir setahun keadaan seperti itu terus berlanjut. Dilema perdebatan keluarga yang kami hadapi telah sanggup menciptakan jarak pada kebersamaan kami. Tanpa kami sadari, kami telah berubah menjadi sosok orang-orang yang selama ini selalu kami hindari. Aku berubah menjadi sosok orang yang sangat pendiam dan selalu menutup diri, sementara partner berubah menjadi sosok gadis liar, yang seolah tak pernah bosan terus berganti pasangan.
Awal tahun 2005, atas nama saling introspeksi diri dan dengan tujuan agar tidak saling menyakiti. Akhirnya dengan berat hati kami sepakat untuk berpisah sementara. Kami tidak sadar, kalau ternyata kesepakatan yang telah kami pilih tersebut merupakan kesalahan kami yang sangat fatal.
Tahun pertama, kami masih bisa saling mengungkapkan rasa sayang meski hanya melalui fasilitas jaringan.
Tahun kedua, keakraban di antara kami sudah mulai terasa hambar. Semakin hari aku semakin tidak bisa mengerti jalan pikiran partner.
Tahun ketiga, petualangannya dengan berbagai macam lelaki, perlahan tapi pasti telah sanggup menumbuhkan rasa jijik di dalam diriku. Walau tak bisa kupungkiri, rasa sayangku kepada partner tak pernah berubah. Namun aku mulai kehilangan semangat untuk bisa memperbaiki hubungan kami kembali.
Di antara petualangannya, partner mulai menaburiku dengan berbagai dalil yang mengatas namakan larangan agama.
Dalam sendiri, kugoreskan sebaris tanya kepada Sang Maha Pencipta. Benarkah segala rasa yang aku punya, hanya merupakan ujian semata? Mengapa dorongan hasratnya begitu kuat, hingga membuat aku selalu merasa tersiksa?
@Jupiter, SepociKopi, 2007












i don’t know….
but…
baca posting km..hatiku terasa teriris…
sahabat lesbian kami ada yang mengalami hal yang sama…
sempat menikah di amrik dan tiba2 femme nya cuti keluar kota dgn teman pria sekantor…finally mereka mengakhiri 4 tahun pernikahan mereka…
Dear You,
Sometimes, we r too late to see some signals or clues from our partner when we’d some problems, eventhough we’ve been living for long time and closed enough with her.
Your partner already showed you how she tried to be patient & calm after her secretly conversation with ur family, at the first time. In long way, she waited for & needed u to make a decision for sake of ur romance/relation, but haven’t done that till she made a move to have a date with another guy who’s been mistakenly choosed by her, in order to heal her pride & ego’s wound cus u haven’t defended her and both of u.
I guess she gave u that clue,my friend, but unfortunately u didnt buy it! Im sorry if everything doesnt go well after that critical moment for u. But I hope u can learn something from that experience and try to gain ur happiness again , may be with someone else or with her…:) Takecare
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com