Welcome to Jakarta
Gedung menjulang tinggi mengkerubuti mata di sepanjang Mega Kuningan, Kawasan Niaga Sudirman dan Thamrin, aku berbisik pada diri, “Selamat datang di Gotham City.” Jakarta bagai pemandangan kota-kota buatan di film Batman yang kerap memberikan kesan misteri akan sebuah komunitas masyarakat urbannya. Di bagian sisi lain teriakan para pedagang makanan keliling dan deru lengkingan bajaj saling menjerit, sangat terasa kota ini menyajikan ruang hidup penuh tantangan bagi siapa saja yang berada di sana.
Mata berpendendar di antara ratusan mal yang bermunculan, hiruk-pikuk manusia langsung mengintimidasi pikiran. Semua urusan birokrasi melesat lincah mengurusi aneka pekerjaan, namun dalam keadaan otak tumpul sebuah cafe yang padat pengunjung sangat cocok sebagai ruang termenung yang sangat nikmat. Di saat itulah tersadar betapa Jakarta semakin berani saja dari tahun ke tahun. Orang-orangnya tak lagi menjadi preman di kumpulan kampung-kampung kecil, namun sudah menjadi jutaan eksekutif kerah putih di residensi kondominium modern.
Di sana ada puluhan juta keunikan manusia yang rapi, lincah, sigap, pintar, gelap, hitam rahasia, menakutkan dan benar Jakarta kemudian menjadi tempat mahal yang penuh problem. Di kota ini pepohonan hutan kotanya beraroma bubble gum, lampu pengatur lalulintas terasa rasberry, bis Trans Jakartanya bercita rasa grape, taksi-taksi yang beragam nama itu seasam pineapple. Aneka rasa itu juga terhidang dalam berjuta macam billboard mulai yang hanya diletakkan dalam sepotong papan kecil, hingga satu dinding penuh kata-kata yang terdengar asing.
Menatap grafiti di sepanjang beton jembatan layang dengan campur aduknya bahasa, terasalah Jakarta bagaikan New York yang membingungkan. Detail semua ini semakin terasa ketika memasuki mal, tempat semua produk di muka bumi ini dipasarkan dengan sangat cerdas, dan di antara beragam suku di dalamnya juga tak sulit menemukan sepasang homoseksual.
Mata akhirnya terjerat jajaran jaket winter yang sangat modis, hampir setiap interval etalase yang terpandang hanyalah baju-baju model musim dingin. Jika dijual pada waktu musim panas seharusnya obral setengah harga. Melihat sebuah desain semi mantel sebetis yang dipenuhi dengan beludru tebal, tak terbayang jika jubah tersebut dipakai di jalanan kota yang panasnya bisa mengasinkan seluruh tubuh. Entah mengapa pikiran terdogma suasana summer yang tak terkira di negeri sendiri. Pikiran kacau mencoba meyakinkan baju-baju itu memang dijual di kota Jakarta yang panasnya bisa sampai 34 derajat Celcius.
Harga jaket sejuta rupiah bisa dipastikan merupakan harga diskon, di negara yang bermusim empat jika dijual pada musim yang tepat, baju-baju hangat itu bisa sekitar 300 hingga 500 Euro. Ketika pikiran masih sibuk siapa yang akan membeli barang-barang tersebut, mata mengarah ke bawah, deretan sepatu desain winter yang tingginya di atas mata kaki memanjang penuh di bawah kaca. Tak jauh dari sana terlihatlah sebuah meja panjang seukuran lutut berisikan baju-baju bertuliskan Le Feu yang bergambarkan kehidupan kaumku.
Motif lukis bergaya fine art ini dipamerkan di lorong jalan utama, tempat di mana semua pengunjung toko melihat-lihat sambil berseliweran ke bagian etalase lain. Anak-anak kecil pun bisa memandang ke arah lukisan romantis motif utama bagian depan baju tersebut. Sepasang perempuan sedang duduk manis di taman, sang andro memakai jas rapi, memakai sepatu tumit tinggi dipangku dengan mesra oleh perempuan yang memakai gaun modis. Motif baju di sebelahnya bercorak lebih indah lagi, femme berpakaian anggun memberikan tangan kirinya dicium perempuan bergaya androgini. Semua yang melihat akan mudah menyadari bahwa dua perempuan di motif itu sedang saling jatuh cinta.
Aku terperangah, barang-barang sedemikian dijual di tempat umum, ini negaraku atau bukan ya? Diri mencoba meresapi aroma mal, merasa bodoh, tumpul, tak sensitif, kuhirup lagi udara di sekelilingnya tetap saja itu bau Jakarta bukan Paris, Bonn, atau Vienna. Mata melahap habis satu per satu mimik pengunjung dalam sebuah outlet merek mode terkemuka tersebut, mereka berbahasa Indonesia kok. Sambil jalan pulang bersama kekasih aku masih terus saja terperanjat dengan barang dagangan berbudaya lesbian yang dijual di sana. Dalam hati mungkin sang empunya outlet ingin meramahkan dunia homoseksual bagi warga Jakarta.
Saat pindah ke mal lain masih di hari yang sama, sebuah tempat pajangan handphone menangkap signal yang sama, sebuah kotak tempat menyimpan rokok bergambar dua perempuan tanpa busana saling berpelukan memandang penuh gairah cinta.
Kembali aku melotot ke arah kekasih… dengan gamang memegang tangannya, “Kita benar masih berada di Jakarta kan, Hun? Kok gambarnya beginian sih, emang ada perempuan-perempuan yang begitu di Jakarta?” Aku bertanya dengan muka sok naif sambil cengengesan.
“Wah jangan salah, mbak, itu laku banget lho…” Sambil ketawa pegawai toko mengambilkan kotak itu sambil meletakkanya di atas etalase kaca mencoba menjualnya padaku.
Kami berdua melengos pergi, kerongkongan tersekat, masih terkaget dengan dua tanda-tanda dunia lesbian tadi. Sampai akhirnya melewati deretan kotak penjual DVD, dan ”Tuh lihat…” Kekasihku menunjukkan jarinya ke sampul DVD dua perempuan saling berciuman bibir di bagian terdepan tumpukan DVD yang dipajang menjorok ke arah penjualnya. Mata mendelik tak percaya, DVD tersebut menjadi pemancing utama agar pengunjung berhenti di toko mereka.
Napas tersengal, keluar dari semua tempat itu kuperhatikan baik-baik semua hal di sekeliling, benar di sana ada Monas, ada tugu Pak Tani, patung Pembawa Obor, patung Kereta Arjuna dan kuda-kudanya. Semakin jauh ke arah bundaran HI kulihat tugu selamat datang Jakarta .., agar merasa yakin kukatakan keras-keras pada sosok diriku yang lesbian: ”Welcome to Jakarta…”
@AdeRain, SepociKopi, 2007















Leave your response!