Home » Bumbu Rahasia, Humaniora, Your Story

Notula Fitnah

30 September 2007 64 views 5 Comments

Oleh: Ade Rain

Fitnah, kata-kata ular berbisa tanpa dasar kebenaran, sesuatu hal yang ditafsirkan serampangan kemudian disebarluaskan untuk menodai nama baik serta kehormatan orang lain merupakan kejahatan sangat keji. Apalagi itu dilakukan oleh orang-orang yang kita anggap teman bahkan kekasih yang kemudian menjadi mantan. Sudah satu minggu inbox HP penuh dengan tangis kerabat dekat pasanganku, seluruh jiwanya remuk redam akibat fitnah yang dilakukan orang yang sangat dia cintai. Penoda kehormatan ini memang tak kenal nurani dan benar-benar menghancurkan harga diri.

Sahabat hetero suatu kali meraung-raung sedih setelah diperawani oleh sang suami, kemudian malah bercerita ke semua orang bahwa istrinya tidak perawan, padahal aku tahu ia perempuan yang selalu menjaga kesucian. Betapa picik mengukur keperawanan dengan darah yang mengucur saat hubungan intim pertama kali dilakukan, dan hal yang paling menjijikkan kemudian ia menyebarkan fitnah itu ke mana-mana.

Aku menampar pipiku, namun saat teringat pesan Nabi sebaiknya memukul itu tidak di bagian wajah aku pindah ke paha, plak! Kali ini berusaha menyadarkan diri dari pengalaman kerabat dan sahabat tadi. Seseorang juga pernah melakukan yang sama denganku, “Nggak mungkin kalian seranjang nggak ngapa-ngapain!” Kata-kata ini kemudian melebar ke mana-mana tanpa terbendung, sangat menyakitkan.

Kehidupan bisa runtuh ketika kesetiaan menjadi tercemar hanya karena sedang berduaan dengan teman atau kenalan lesbian di suatu tempat. Pertemuan seperti ini, bisa dimanfaatkan secara liar bagi para penyebar fitnah dengan mengatakan bahwa kita sedang berselingkuh. Memang sangat mudah mengaburkan fakta dan menjadikannya sebagai senjata untuk menghancurkan kehidupan seseorang, sekaligus memecah belah hubungan silaturahmi yang ada. Pantas saja di dalam kitab suci sampai turun ayat yang melarang manusia melakukannya. Sebuah ungkapan pun menggambarkan kekejian tersebut lebih kejam dari tindakan pembunuhan, tiba-tiba aku terbayang bagaimana orang membunuh, memburaikan usus dengan clurit atau mengeluarkan isi cairan otak dengan balok yang langsung menghilangkan nyawa, dan fitnah lebih kejam dari semua ini.

Adegan fitnah seharusnya juga tak boleh terjadi pada para lesbian. Kehidupan ribet menjadi seorang yang berbeda dari kacamata normal tidak ditambahi lagi dengan tingkah laku buruk lain. Marah terhadap seseorang sah-sah saja, namun sebaiknya dilampiaskan dengan cara positif, bukan menyebarkan kabar bohong yang kejam.

Seorang ‘kenalan’, aku terpaksa menyebut ‘kenalan’ meski tadinya berusaha menganggap sebagai teman. Tapi seorang teman tidak menghancurkan teman sendiri, kan? Suatu sore kenalan ini menelepon, minta tolong agar pacar sahabatnya yang baru melarikan diri dari Pulau Jawa mohon dicarikan kerja, tanpa babibu aku berupaya, tak lama pun ia mendapatkannya. Namun kemudian tindakan babibu ini malah menjadi bumerang pahit.

Minggu pertama setelah ia mendapatkan pekerjaan itu, ia mulai nekat, mengaku jatuh hati, tak peduli perasaan pasangannya, dan sama sekali tak menghormati keberadaan kekasihku. Meski ditolak dengan radikal dan drastis, ia kemudian memelas untuk merahasiakan perihal ungkapan jatuh hati ini dari partner dan semua teman. Namun setelah itu bukannya mundur, ia malah menjalankan skenario manis, dengan membuat jebakan konyol. Setiap hari berbagai alasan ia lakukan untuk meminta tolong menjemput barang ini atau itu di rumah pacarnya. Kemudian dengan sangat penuh penghayatan, makhluk belut ini berakting seakan-akan dia sudah jadian denganku.

Tindakannya suatu kali sangat nekat, memakai barang-barang pribadi tanpa izin, membuka tas, memegangi handphone, malah berani mengambil tisu di dalam tas yang tertutup rapat. Terkadang dengan konyol melakukan rengekan palsu, “Aku tinggal di sini saja ya…, please… aku hanya ketemu dia sebentar saja, nanti aku akan pulang ke kos, sis, nggak papa yah…” Sontak hati dan otak menggelupur lemas dengan tingkahnya, dan paling konyol di sana tidak ada hanya pacar tapi juga teman yang memintakan pertolongan untuk mencarikan ia pekerjaan. Ah, bodohnya! Betapa dunia saat itu mencibir hina padaku.

Kehidupan batin, pikiran, angan-angan, perasaan, nyawa terasa mati ketika menyadari jebakan maut ini sengaja ia lakukan karena sering merasa tak dihargai oleh sang pacar dan teman-temannya. Bagai penjahat yang langsung divonis mati tanpa perlu pembuktian, perlindungan Tuhan atas semua itu datang melalui kekasih, dengan mendamprat perempuan tak tahu malu tersebut, sekaligus menegur teman yang merekomendasikan tadi karena langsung menyebarkan fitnah tersebut ke mana-mana. Yang paling menyedihkan teman yang sudah mengenalku tahunan malah memercayai si bangsat tadi. Dari sana aku menyadari bahwa ia bukan seseorang yang baik buatku dan pasangan, seleksi alam berjalan dengan sempurna.

Kesadisan fitnah pun merebak bagai udara yang terhirup, memberi ruang hiburan pada orang lain tapi menjadi sebuah penderitaan yang bisa membunuh. Kekasih berkata lembut, “Mungkin Tuhan ingin mencobai agar tak berhenti memerhatikan orang lain. Tuhan pasti menginginkan agar kamu lebih sabar.” Dua bulan aku menghabiskan berkotak-kotak tisu, dan melarikan kesakitan itu di dalam keheningan hutan hujan. Berbulan-bulan setelahnya baru mampu menetralisir kesedihan tersebut.

Semua pengalaman itu membuat diri meningkatkan kewaspadaan berlapis, meski menyakitkan sama sekali tak menghentikanku menuntun hal-hal yang bisa dijalani teman-teman lesbian untuk mendapatkan kualitas hidup yang bermutu. Bedanya semua serba selektif, hanya menerima rekomendasi dari sahabat lesbian yang diketahui hidupnya luar dan dalam, yang mana ketakutannya sama dengan ketakutanku, kebahagiaannya sama dengan kebahagiaanku, rasa amannya sama tinggi dengan rasa aman yang aku butuhkan.

Setelah kejadian ini aku dan kekasih menjadi sangat hati-hati menerima informasi buruk tentang seseorang, jika tidak mengalami langsung jangan harap akan begitu saja menelannya. Saat bertemu teman kami juga tak langsung menafsirkan reaksi negatif dari mereka. Mungkin saja ia sedang menghadapi masalah, sehingga wajah tak berseri-seri, bisa jadi ia dalam keadaan sakit, atau yang paling sering sedang dilanda PMS sehingga menjadi clumsy dan ngomong belepotan, hamil pun terkadang membuat kita memberikan reaksi yang tak nyaman.

Tuhan pasti menciptakan semua situasi dan keadaan itu agar kita saling belajar menghargai dengan kasih sayang. Jadi no hard feeling kalau ada teman yang sedang tak cerah saat bertemu apalagi mengomentarinya dengan cara negatif, karena hanya akan menjadikannya sebagai bibit fitnah. Sadarkah bahwa orang yang teraniaya akibat fitnah tidak berjarak dengan Tuhan? Mengerikan jika ia mendoakan sesuatu yang menyedihkan kepada si penyebarnya.

@Ade Rain, SepociKopi. 2007

5 Comments »

  • Anonymous said:

    its too dramatic, ribet amat idupmu.. fitnah, gosip, ghibah.. (garuk2 pala, hayo apa bedanya?) hayo yang nulis juga bercermin, jangan2 kita sendiri juga pernah melakukan itu (tanpa sadar) dan sudah melukai perasaan org lain…

    *janji joni

  • Anonymous said:

    Melukai perasaan org memang sadar ato tidak sering kita lakukan,tapi kalau hanya soal kecil seperti salah ucap ya jangan dibawa mendalam, hanya buat kapasitas otak penuh. Buatku kesalahan fatal amtara lain korupsi, makan harta org lain yg bukan haknya, menghancurkan karir, merusak hubungan cinta dengan pasangan orang atau keluarganya, untuk yang ini segeralah berhenti dan minta ampunan-Nya. Tentang hidup yang ribet, kayaknya hampir setiap manusia mengalami keribetan, termasuk aku makanya selalu nongkrongi sepocikopi (merasa senasib, jadi bisa ngaca). begitu pun jika ada yang tidak mengalami keribetan berbahagialah.
    Drama-drama-drama memang benar begitulah hidup ini.

    *janji tobat

  • Anonymous said:

    Setiap perbuatan diganjar sesuai dengan niatnya.Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini sepanjang diniatkan karena Allah (dlm islam spt itu).Begitu juga dalam hal menolong orang lain, bila dikemudian hari org yg kita tolong menyakiti/mengecewakan kita. Sebaiknya apa yg kita perbuat kpd dia,ngk usah kita ungkit/sebut2 lagi. Karena yg spt itu hanya menghapuskan amal ibadah yg kt dpt dr Allah. Pengakuan/rasa hormat dan terjamin bhw org tsb tdk menyakiti hati- sbnrnya bukan tujuan yg kt tuju. Kalau itu yg kita hrpkan, spt berpuasa saja, hanya lapar dan haus yg kita dpt.

    *sekedar sharing,(diluar konteks utama tulisan tsb)mumpung ramadhan,slg mengingatkan dlm kebaikan. mohon maaf bila ada salah2 kata.
    -Sya

  • Anonymous said:

    Ayo Tetap semangat.. dan teguhkan hati.. disetiap waktu.. sampai nanti.. sampai nanti.. sampai mati

    Semoga kesedihan/kejengkelan/skt hati, dendam, kusut pikiran segera berlalu. Semoga hari berganti diri kita makin kuat makin bijak makin hati2 makin ikhlas makin pasrah & makin sabar. Amin.

    slm hangat,
    Letto, nda & sya

  • Anonymous said:

    Sesempurna apa sih kita sebagai manusia? Siapa tau tanpa sadar pun kita pernah berbuat demikian, jadi sangat manusiawi jika sesorang berbuat salah, yang tidak manusiawi adalah ketika kita selalu merasa jadi yang sempurna dan selalu benar, demikian pula ketika menulis tentang kehidupan atau cerita seseorang, sapatau tulisan itu menyakiti orang yang membacanya. Who knows kan? Nobody perfect, even for a famouse writer or a prophet.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.