Home » Bumbu Rahasia, Humaniora

Pelukan Itu

16 October 2007 122 views 2 Comments

Oleh: Ade Rain

Kami sudah lama saling mengenal, kerap bertemu di berbagai acara yang menyegarkan seperti seminar yang bisa menambahkan bumbu perasa ke dalam pikiran. Berkali-kali juga berjumpa saat sedang menyambut tamu penting. Ia kerap berada di sana dengan blazer hitam rapi, sepatu pantofel semi maskulin berwarna hitam, sapuan tipis lipstik berwarna bibir, sangat anggun dengan dandanan rambut pendek ditata wetlook style.

Kembali di awal puasa lalu kami bersua kembali, di antara riuh ramainya teman-teman yang sedang berbuka. Ia dengan hangat menghampiri, melingkarkan lengannya yang berkulit lembut putih bersih harum, awalnya ke leher, tersadar akan sesuatu ia reflek meluruskan ke bahu belakang, kemudian merapatkan seluruh tubuh bagian atas padaku. Terasa hangat dan penuh persahabatan, namun entah mengapa kali ini terasa agak berbeda, seperti berpesan sesuatu. Kusambut pelukan itu dengan tanda tanya selama berada di tempat tersebut.

Obrolan kami melebur bahagia, membicarakan semua hal yang lucu dan tak perlu. Namun sorot mata menuangkan siratan hal yang lebih bermakna dari semua itu. Hati terasa lecut membayangkan jika ia mengetahui keadaan diri, sementara ia sangat mengetahui aku dan keluarga. Jika benar, ingin rasanya mencari lubang yang dalam, berlindung di sana sampai aku lupa akan pesan pelukan itu untuk sementara waktu.

Makanan berbuka yang tersebar di seluruh penjuru ruang sempat melupakan kejadian tadi sesaat, namun kemudian terasa gamang setiap ia mulai mendekati meja. Untung ia tak bisa berlama-lama, karena semua tempat duduk sudah terisi. Rasa penasaran ini sebenarnya jauh-jauh hari juga selalu muncul setiap melihatnya, mungkin sama dengan rasa curiganya padaku. Tapi lebih baik menghindarkan diri dari percakapan topik tersembunyi dalam hidup ini dari seorang teman hetero.

Suatu kali di tempat lain, urat saraf terasa menggeliat kala kami terkoneksi tanpa sengaja dari seorang teman lesbian sebut saja Indri. Suatu sore, sebuah telpon masuk, Indri sangat memohon agar aku datang karena ia mengenal seseorang lewat friendster yang katanya mengenalku dengan baik. Namun ia tidak mengetahui bagian sisi yang ?itu?. Di bawah pohon teduh dan rindang betapa kaget menemukan bahwa dialah teman yang dimaksud . Pikiran apakah ia seperti aku dan Indri kubuang jauh-jauh sampai akhirnya kami mengobroli hal-hal asik seperti asesori batok kelapa, anyaman indah, serta pembuat handycraft yang bisa diandalkan dari kota tempat kami bertiga. Hari itu habis begitu saja dengan tanda tanya yang tersimpan utuh.

Keadaan ini kemudian terulang kembali ketika Indri naik jabatan dan kembali mengundang kami berdua ke sebuah bistro. Hari itu sorotan matanya bertemu dalam per sekian detik dengan tatapanku. Sekali lagi aku menghindari kontak pikiran tentang hal yang sama dengannya, dan berlari-lari mengobroli soal kerjaan. Hari itu badan capek luar biasa, sangat lelah mencari pembicaraan guna menghindarkan dikusian yang paling pribadi.
Rasa penasaran kutelpon Indri suatu kali, “Si anu begitu ngga sih?” “Wah ngga yakin juga, tapi aku lihat friendsternya dengan perempuan yang sama dalam berbagai pose di tempat yang berbeda-beda, ada juga foto-foto mereka bertiga bersama anaknya.” Aku tak tahu apakah jawaban Indri sebuah pengungkapan bijaksana. Meskipun entah dia berbohong kuhargai usahanya melindungi kehidupan lain dari teman ini. Dan aku percaya Indri juga berupaya menjaga ruang hidupku.

Rasa penasaran itu menghilang begitu saja, menguap tanpa kejelasan. Aku pun sudah melupakan dan kembali menjalani rutinitas seperti biasa, hingga suatu kali harus bertemu ia lagi. Tentu saja hati semakin bertanya-tanya ketika berhubungan dalam urusan kerjaan ia malah menanyakan soal Indri, “Eh?gimana Indri? Kemana aja dia ngga ada kabarnya?” sambil melingkarkan lengannya ke pinggang. “Di Jakarta, kemarin sms,” kataku datar merasa bingung mengapa tiba-tiba harus membicarakan Indri.

Kembali ke acara tadi, merasa kacau akibat pelukan dan tak nyaman dengan senyumnya yang sangat bermakna itu, bergegas aku pamitan, padahal peralatan sembahyang sudah dibawa untuk sholat Magrib di mushola hotel bintang empat tersebut. Kusalami semua teman minta izin untuk beribadah di rumah saja.

Saat berpamitan pada dirinya ia kembali memelukku dengan cara yang berbeda, merangkulkan seluruh lengannya sambil menyentuhkan pipinya ke pipiku. Deg, jantung kembali terasa kaget, bulu kuduk berdiri? apa ia tahu sesuatu? Sementara itu di samping dua orang rekan berdiri ikut berpamitan pulang. Ia berusaha menutupi adegan pelukan itu dengan memeluk dua teman ini. Tapi gerakannya formalitas, lengan itu tak begitu merangkul seluruh tubuh mereka, sementara pelukannya terhadapku terasa penuh misteri.

Buru-buru kuraih tas masih berusaha berdiri tenang di atas sandal bertumit, kemudian melangkah perlahan enggan menoleh padanya lagi, tapi wush? ia malah mengiring dari belakang mengantar hingga ke lobby. Segera kukeluarkan bukti vallet, buru-buru mengucapkan selamat tinggal. Di dalam mobil hati masyuk bingung, ah pelukan itu… sepertinya ia telah menemukan siapa diriku.

@Ade Rain, SepociKopi, 2007

2 Comments »

  • parikesit n1nna said:

    nice. rasanya akrab sekali dengan ‘sudut pandang’ ini

  • Anonymous said:

    kayak baca TTS, kak… ;p

    Rgrds,
    -Arie-
    Medan

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.