Home » Opini, Your Story

Perempuan dan Revolusi

21 January 2008 37 views 7 Comments

Oleh: Hanya Perempuan

Bolehkah aku menjadi seorang yang revolusioner, namun tetap menggunakan kemeja yang harganya tujuh ratus ribu? Atau menelaah pemikiran Karl Marx sambil menyemprot wewangian ke tubuh dengan merek parfum, Paris Hilton? Apakah aku bisa ikut berdemonstrasi menggunakan kacamata hitam keluaran Guess?

Goenawan Muhammad menulis banyak tentang revolusi, ia katakan bahwa revolusi adalah permusuhan, kekerasan sikap. Sementara bila kita mengaitkan revolusi itu sendiri dengan tokoh-tokoh, maka akan muncul sederetan nama seperti Ernesto Che Guevara yang sepertinya jauh dari waxing, Gandhi yang hanya dibalut oleh sehelai kain putih, Mao Ze Dong, yang terkenal dengan prajuritnya yang keras, rela memakan tali pinggang, kulit kayu, dan sebagainya sebagai penampakan dari sikap tidak berfoya-foya.

Sambil menangkapi hamburan kata revolusi yang berterbangan di dalam kamarku, membentur seperangkat alat kecantikan yang tak tersusun rapi, yang terselip masuk ke tas laptop, yang menembusi koleksi sebagian bukuku yang betul-betul kontra-revolusi, kutangkap satu. Kuletakkan di samping foto perempuanku. Perempuan dan revolusi. Perempuan dan perubahan mendadak.

Ada sederet nama perempuan, Benazir Bhuto yang tewas baru-baru ini, dijadikan sebuah momentum bagi beberapa kawan-kawan kiri, sebagai sebuah dialektika. Dalam Reason in Revolt, perubahan dan pergerakan melibatkan kontradiksi. Kematian memunculkan kehidupan. Kematian Bhuto, adalah salah satu symptom, di mana perubahaan yang diinginkan oleh para revolusioner kiri—setidaknya teman-temanku menyebut diri mereka begitu—akan niscaya terjadi.

Ketika coffee break kantor, saat semua koran hangat mengulas tentang Bhuto, aku sedang membaca majalah mini yang mengulas tentang proyek pembangunan mal baru beserta condominium, sebuah city walk. Rencananya, bangunan yang—bila memang akan
terealisasi seperti yang ada di gambar majalah—persis serupa Cilandak Town Square di daerah Selatan Jakarta itu, akan diisi oleh store-store dari brand kenamaan. Kawanku menyela, seraya memperlihatkanku foto almarhumah Bhuto yang sedang berpidato di depan massa, ia bertanya “Kira-kira merek kaca mata yang dipake Benazir Bhuto apa ya?”

Suatu ketika, ada imbauan berdemonstrasi. Tujuan demo jelas. Legalitasnya pun sudah diurusi dengan rapi. Demo itu akan diikuti oleh banyak kalangan LSM, sejumlah universitas negeri dan swasta serta para simpatisan independen. Aku dihubungi oleh
kawan LSM yang akan ikut turun jalan menyuarakan perubahan, ia melakukan konfirmasi mengenai keikutsertaanku. Lantas aku bertanya “Demonya boleh bawa payung nggak?”

Revolusi dan perempuan. Mungkin memang sedikit agak ribet……

@Hanya Perempuan, SepociKopi, 2008

Tentang Hanya Perempuan:
Seorang perempuan yang bekerja di media massa dan berharap punya bargaining power yang tinggi untuk tetap tidak coming out. Pemerhati kebersihan dan kesehatan kulit tangan, dan memutuskan untuk menjadi vegetarian.

7 Comments »

  • p said:

    me-revolusi revolusioner, boleh juga. jadi yang jadi pe-revolusi di revolusi juga, disulap jadi demikian rupa yang lebih revolusioner-lah, huehehe. jadi, apakah perlu direvolusi juga “feminis memutuskan jadi lesbian” ?
    jadi kayak provokator nih, penyulut kerusuhan.

  • parikesit n1nna said:

    hehehe, sori, ketinggalan namaku, ketulis p doank

  • Kembang said:

    Aku pikir ada kesalahan dalam melihat revolusi.Tulisan di atas terlihat mencampuradukan antara kapitalisme, perempuan, gender dan revolusi. Memang ada hubungannya, tapi dlm tulisan tsb menjadi campur aduk gak jelas sehingga gak kebaca nalar berpikirnya..

  • Anonymous said:

    aku suka baca tulisan spt ini. mencerahkan!!! hanya perempuan terus nulis ya!

  • sophia312 said:

    *ketawa ngakak* kalau aku, pastinya pake tabir surya, payung super gede, kacamata item.

    nyambung banget neh tulisan, jadi inget waktu ikut-ikutan demo duluuuuuu di kampus.

  • Anonymous said:

    qt berdua ga mudeng ama isinya. maksudnya apa ya, e apa qt berdua katro nih.

    tere & memes

  • Anonymous said:

    tere: mes, ak mulai dikit ngerti ama isi tulisan ini.
    memes: eling tere, wong katro mo sok ikut borjuis.?
    tere: skeptis amat sih, gini, kalo qt diajak demo penghematan BBM, qt kudu pake BMW.
    memes: BMW? BMW moyangmu apa? nyang ada juga bebek 1/2 tak tuh. apa coba hubnya dgn L?
    tere: nkali maksudnya, biar L tetap wedok, wedok itu ribet.
    memes: lah kalo diajak demo menuntut persamaan hak kaum gay, mo pake apa?
    tere: (manggut2 sambil ngupil)
    memes: ayo?! wong pacaran aja ngumpet2 gini. emang tuh LSM atau apalah lembaganya, mau apa peduli n nampung kalo qt didepak ama keluarga n masyarakat?
    tere : e.. iya ya. enakan jg ikut demo masak, trus makan, trus kenyang deh.
    memes : trus qt mojok lagi.
    tere : ergggghhhhh…

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.