A Ghost Story
Aku bertemu dengan banyak perempuan di kuburan dunia maya, di mana di sana selalu senja. Senja yang busuk yang beraroma pahit. Aku benci senja. Aku tidak dapat melihat keindahan senja karena senja adalah masa transisi dari terang menuju gelap dan masa transisi adalah masa abuabu yang kelam, warna yang bukan menjadi warna favoritku, malah itu adalah seperti warna tulang yang telah keropos, lapuk, memborok.
Aku berjanji bertemu di kuburan dengan banyak perempuan maya, di sana kulihat para perempuan itu mengecat senja di langit, kemuakanku semakin menjadi-jadi sebab senja mengingatkanku pada nyamuk pengisap darah yang tak tahu malu mengerubung betis kaki mengincar bergelas-gelas darah di sana. Dari banyak perempuan itu, aku mengikuti suara hati, kuajak beberapa keluar dari kuburan, menuju rumah reotku yang terletak di seberang sungai, menjauhi senja. Kuundang mereka ke ruang tamuku yang nggak bisa disebut ruang tamu karena di sana ada ranjang dan televisi kecil juga, sementara di pojoknya ada ember berwarna kuning berisi air keruh tempat cuci-cuci.
Para perempuan yang kuundang ke rumah reotku senang menghabiskan malam bersamaku. Di sana, senja hadir dengan cepat, nggak seperti di kuburan dunia maya, yang selalu dikerudungi oleh senja; senja yang menyebalkan, senja yang bikin aku marah-marah. Kami menghabiskan berteko-teko cangkir teh, bercerita segala hal, tentang malam dan tentang bulan. Aku bercinta dengan bulan, kau tahu? Bulan sering kali singgah di sini, menciumku habis-habisan, menggodaku, dan membuatku orgasme berkali-kali.
Aku mencintai rumah reotku ini lebih dari apa pun, walau kakusnya sering macet dan bohlam lampunya berkeriap suram, walau ranjang yang kutiduri selalu menjerit kesakitan encok katanya, walau cermin yang tergantung di sana bertotol-totol cokelat padahal selalu kujaga baik-baik agar totolannya tidak menyebar ke mana-mana memenuhi seluruh permukaan cermin sehingga aku tidak dapat menyisir rambutku lagi tanpa memandang pantulan wajahku. Aku mencintai rumah reyotku ini, dengan bulan cantikku yang duduk di singgasana indahnya di kebun belakang milikku di angkasa raya, serta ah, ah tentu saja beberapa sahabat perempuan terbaikku yang kuculik dari kuburan dunia maya.
Mereka bilang – sahabat-sahabat perempuanku – bilang rumah reyotku menarik dan hangat, jauh lebih hangat dari pekuburan yang menyebalkan dan penuh kepalsuan, malah penuh dengan lelembut gentayangan. Mereka pikir beginilah semua wajah perempuan-perempuan yang keluar dari kuburan dunia maya, aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan naif mereka, lalu mencerau kepada mereka sambil meleletkan lidah, mengatakan bahwa sekali lelembut ya tetap saja lelembut.
Sambil bersulang keseratus gelas teh yang mulai berbau anyir merayakan kesakralan persahabatan kami, mereka mengoceh tentang berjalan kembali ke kuburan dunia maya dan ikut-ikutan menculik seratus, bahkan seribu perempuan seperti diriku, karena mungkin saja mereka bukan lelembut tetapi putri cantik rupawan memesona yang terjebak di kuburan sana tak bisa kembali lagi menjadi putri yang aduhai. Aku melempar kaleng tehku ke dinding, berteriak sekencang-kencangnya sampai butiran kata-kataku pecah berantakan menjadi butiran hujan deras yang mengguyur pekarangan; nyaris kepalaku meledak berkeping-keping karena marah mengapa teman-temanku begitu bodoh masih mempercayai kuburan sebagai tempat ajang permaianan yang mengasyikan. Tidak ada permainanan kelereng atau congklak di sana, ataupun permainan lari-larian yang mengembalikan setiap orang ke ruangan mungil di masa kecilnya; permainan yang mengundang gelak tawa, gerak mata, dan gerak tubuh.
Hanya ada beberapa putri yang berpura-pura menjadi lelembut di kuburan itu, kataku meyakini mereka dan jika mereka berhasil mendapatkan putri itu, kusarankan untuk segera meninggalkan keisengan bermain-main di kuburan, tepiskan tangan-tangan gondorowo yang ingin menjerat semua orang berpesta dansa selama-lamanya di sana, jangan mencari-cari wajah kuntilanak yang bikin penasaran karena gaya ngobrolnya yang mengasyikan. Di kuburan dunia maya banyak hantu dan setan gentayangan, kau tidak perlu rasa ingin tahu yang teramat sangat untuk mengenal hantu-hantu itu.
Sini kemari, tinggallah di rumah reotku ini, bertetangga dengan sesama perempuan lain yang dapat orgasme dengan bulan, karena cukuplah perempuan-perempuan di rumah reot ini untuk menjadi sahabat-sahabat nyatamu, tidak perlu keranjingan bermain jalangkung di kuburan sana. Sini kemari, mari bersulang teh dari teko penyok, isi minyak penuh-penuh di buli-buli biar api tidak akan padam meninggalkan bayangan kelam yang panjang, lalu duduklah di sini, dengarkan suara-suara mengerikan yang berasal dari kuburan dunia maya di ujung belakang sana. Mari, sini kemari, sahabat-sahabat perempuanku…
@Lakhsmi, SepociKopi, 2008










jadi di sini perkumpulan kuntilanak ? ooo, di kuntilanak 2 kuntilanaknya yang pada lepas kumpul di sini semua, ya ? welleh, tulisan dengan diksi yang menyeramkan…takut jadi hantu jadinya ;p
maksudnya gak bole maen2 di kuburan ya?lolzz
bener Mbak Laks..di kuburan dunia maya terlalu banyak imitasi.Sedangkan disini, terasa nyaman dan hangat sekali..
Hiii seramm tulisannya.. Mbak Lakhsmi bisa aja nulis kayak gini.. Makasih buat tulisan ngeri kayak gini.. bikin aku ingat untuk selalu hati-hati dengan kenalan2 baru di dunia maya.
Muahhh buat Mbak Lakhsmi! *sori Lex, jangan marah yah.. hihihi..*
(Agathea)
tuh setannya belok juga tidak???
hehehehe
mau donk satu, yang setia tapinyah…q dah kesel dihianati femme…T_T
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 63 queries. 0.753 seconds.