Home » Humaniora, Opini, Your Story

Mari Makan Terus

5 February 2008 37 views 2 Comments

Oleh: Hanya Perempuan

Sun Tzu Berkata, Courtesy comes from full stomach. Dengan kata lain, jika kau sedang kelaparan, kebajikan akan sulit hadir. Mari maknai apa yang dipercaya Sun Tzu, bahwa saat perut kenyang, sesuatu akan berjalan lebih baik. Tinggalkan dulu telaah lebih dalam atau arti filosofisnya, yang memang jelas melekat di kalimat singkat itu.

Jika kau tidak makan seharian, perutmu kaubiarkan kosong, tubuh bergerak lincah namun tak kau beri asupan, maka kau akan lebih gampang marah. Percayalah.

Syahdan, sejoli terjebak macet. Di mobil itu, satu perempuan panik, sepanjang jalan ia mengutuk berbagai kendaraan lain, menggugat pemerintah dengan program busway, menggugat jalanan Jakarta yang njelimet. Namun dibalik semua protesnya, perempuan satu lagi, yang duduk manis di sebelahnya, paham betul bahwa kekasihnya bukan marah dengan Jakarta, tapi ia terlalu gengsi untuk berkata, “Aku lapar, dari siang belum makan….”

Suatu siang ada dua perempuan yang terlibat perbincangan kurang asyik, karena yang satu merasa bahwa segalanya sudah terakumulasi, kerinduan untuk kembali sendirian menendang-nendang minta dituntaskan. Ia mengajukan permintaan untuk putus. Sejoli ini pun bernegosiasi. Cukup alot, yang satu mati-matian putus, yang lain tak membiarkan perempuannya pergi dengan mudah. Hingga tawar-menawar yang belum ada kesepakatan itu terhenti, perempuan yang minta putus, mohon break sejenak, ia bilang, “Sudahlah, aku lapar, mau makan dulu.”

Setelah makan, proses negosiasi mengerucut dalam sebuah kesepakatan, mereka tidak jadi putus. Perempuan yang ingin sendirian menemukan cintanya kembali dalam waktu kurang-lebih 30 menit. Mungkin nasi bungkus yang disantapnya membangunkan banyak kesadaran, bahwa sendiri dan membiarkan kekasih hati untuk pergi, bukanlah pilihan tepat.

Jangan sepelekan nasi bungkus. Nasi mengandung gula. Gula memiliki sejenis zat yang bisa menimbulkan kebahagiaan. Yang jelas, hal-hal indah memang lebih gampang hadir saat kita tidak sedang kelaparan. Toh perempuan yang terjebak macet di jalanan tadi langsung mengecup punggung tangan kekasihnya dan berkata, “Kamu tau kan, Sayang, kalau lapar aku bawaannya marah-marah terus.”

Kenapa Mao Ze Dong membiarkan pasukan merahnya hanya makan kulit kayu? Beberapa gerakan kiri sering kali bergerak melalui kaum proletar yang marah, karena kebutuhan primer mereka tidak terpenuhi, karena perut kosong (bisa jadi) adalah sumber kemarahan.

Adalah benar, saat kau ingin mencoba coming out dengan orangtuamu, ajaklah mereka makan malam di tempat yang menyajikan menu enak-enak. Biarkan mereka menyantap seberapa pun porsi yang sanggup mereka habiskan. Bungkam kemarahan mereka, seperti kata Sun Tzu, courtesy comes from full stomach. Lalu katakan, “Ayah, Ibu, aku lesbian.” Setelahnya, suguhkan mereka es krim cokelat sebagai dessert.

@Hanya Perempuan, SepociKopi, 2008

2 Comments »

  • Anonymous said:

    hihi kayak aku nih.. aku juga kalo laper, macet pula jalanan jd suka marah2 ngk jelas. Pasanganku tau banget kebiasaanku, belakangan juga nular ke dia, kalo udah laper males diajak diskusi panjang2. Kalo udah gini kencan paling sipp ngadem cari restaurant, dijamin pulangnya udah sun2an lagi. -Sya

  • marshell said:

    aq sng liat gambarnya… bikin laperrr ^_^

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.