Home » Opini, Your Story

Life Is Beautiful

12 March 2008 115 views 15 Comments

Oleh: Ceacilia Choo dan Lakhsmi

Hampir saja aku berteriak sambil melempar novel lokal yang sedang aku baca dari tanganku. Novel yang pengarangnya tidak jelas, penerbitnya tidak jelas, tapi yang pasti temanya jelas: lesbian. Novel ini nyaris membuatku muntah karena isinya yang sangat buruk, editing yang asal-asalan, dan penggarapan plot cerita yang murahan.

Waktu mengambil novel ini dari rak toko buku yang menyempil di sudut dengan menyedihkan, aku sebenarnya tidak mengharap banyak. Ini pastilah salah satu novel bertema lesbian yang ditulis dengan semangat asal-asalan dan pemikiran “yang penting ada”. Aku masih punya harapan setitik bahwa insting awalku adalah salah. Setidaknya aku dapat menggali secuil keindahan dari novel ini. Sayang seribu sayang, lagi-lagi aku harus kecewa dan marah-marah. Novel ini sangat buruk.

Isinya bercerita tentang penderitaan seorang lesbian yang dihina dan disiksa oleh keluarga dan masyarakat. Garis besarnya, menderita sekali. Penuh ratap tangis dan air mata. Bukannya aku tidak mengerti bahwa kehidupan seperti itu sungguh-sungguh ada di luar sana, tapi sejujurnya, aku tidak mengerti apa misi dan idealisme yang hendak disampaikan oleh sang penulis?

Menulis adalah kendaraan untuk menyampaikan pesan dan gagasan. Tulisan yang baik dapat membuka mata. Tulisan yang kuat dapat mengubah dunia. Tulisan yang indah dapat menciptakan rasa. Perjuangan tidak dimulai di lapangan berumput dengan saling melempar panah. Perjuangan sebenarnya dimulai di ribuan halaman kertas oleh hujan kata-kata.

Membaca aneka kisah lesbian yang penuh dengan darah dan air mata, ditulis dengan kata-kata yang miskin dan compang-camping gagal membuatku bersimpati, tapi membuatku muak menjadi-jadi. Kenapa ya kita tidak bisa berbagi cerita tentang kisah hidup lesbian yang berbahagia? Aku bahagia dengan hidupku. Nyaris semua teman-teman lesbianku yang bertebaran di berbagai tempat sangat bahagia dengan pilihan hidupnya. Lalu mengapa justru cerita-cerita di luar sana malah berkubang dengan penderitaan?

Cerita-cerita yang kaya dengan nuansa menyedihkan dan dramatis itu dibuat untuk mengemis rasa kasihan dari para pembaca, masyarakat umum. Aku malu menjadi lesbian dengan label seperti ini! Benarkah menjadi lesbian satu pararel dengan metafora kecemplung di sungai dengan buaya berperut lapar dan bergigi runcing? Sungguh mengagumkan bahwa justru aku melihat sahabat-sahabat di sekelilingku mempunyai banyak kebahagiaan dan kebanggaan menjadi seorang lesbian. Sungguh heran jika hal itu tidak pernah diangkat ke permukaan. Dan sungguh aneh jika kebahagiaan harus disembunyikan, di mana justru ia memberikan gelora dan inspirasi.

Inilah dia, kata-kata favorit mengerikan yang (katanya) kembar dempet dengan dunia lesbian: peminggiran dan diskriminasi. Aku tidak setuju seratus persen dengan rapalan tiada henti ini. Ada banyak cara untuk meminggirkan peminggiran dan mendiskriminasikan diskriminasi. Salah satunya membangun power dalam diri yang tinggi, sehingga daya tawar yang kuat menjadi tak terbantahkan. Siapa yang dapat melawan seorang perempuan yang mempunyai kedudukan penting di masyarakat, kecerdasan yang menggoda, serta senyum yang memikat?

Biarpun harus kecewa berkali-kali, aku tetap setia mengikuti kisah lesbian dalam berbagai media dan sarana. Kebanyakan tidak mempunyai kekuatan kata-kata yang menggelitik. Kebanyakan tidak menyentuh estetika, tidak menyentuh wilayah peka indra. Kebanyakan tidak meresap ke lapisan-lapisan terdalam manusia, tidak menusuk intelek dan moralitas, bahkan tidak mengembangbiakkan imaji. Bolehlah kita semua menulis dengan menggunakan bahasa cair dan sehari-hari, tapi di manakah ketajamannya, ironinya, atau kemampuannya menciptakan inspirasi bagi para lesbian?

Nyaris semua penulis lesbian dapat bermain-main dengan kisahnya, tapi tulisan yang dapat meninggalkan rasa riang yang dalam, gelora semangat yang tak bisa hilang, adalah hal yang sangat langka yang aku jarang temui. Ditambah dengan cerita-cerita sedih memilukan yang menjadi ciri khas tulisan lesbian – yang jauh dari frasa yang terang – membuatku semakin malas membaca apa pun yang berhubungan dengan kisah lesbianisme.

Hidup aku indah, bahagia, dan aku tidak malu jadi lesbian. Aku punya keluarga hebat yang mendukung aku. Aku punya banyak teman lesbian dan hetero yang memberikan tepukan di punggung ketika aku butuh. Dan aku punya kekasih baik yang selalu mendampingi aku.

Coba tolong beritahu aku, bagaimana aku bisa menghapus tatapan iba dan kasihan dari sahabat hetero seakan aku butuh belas kasihan mereka jika cerita-cerita lesbian yang mereka baca bentuknya adalah penderitaan dan kesepian yang tak kunjung akhir? Sekali lagi, tolong beritahu aku bagaimana aku bisa bangga jadi lesbian jika tulisan yang tercetak dan terpampang loud and clear adalah ratapan tanpa henti?

Please, berhentilah meratap dan menangis. Tulislah sesuatu yang menggembirakan, kisah hidup yang penuh warna pink dan senyum-tawa. Most people would rather be certain they are miserable, than risk being happy. Dunia ini indah, Jendral!

@Ceacilia, Lakhsmi, SepociKopi, 2008

Tentang Ceacilia Choo:
Perempuan yang nggak suka diberi label. Emangnya dia mau rekaman lagu? Biarpun bersuara pas-pasan, dia nggak pernah menolak tawaran ke karaoke bersama teman-teman. Dua puluh delapan tahun hidup bahagia, sangat yakin menjadi direktur sebelum berusia 40 tahun. Hubungan asmaranya selalu rumit tapi itulah tantangannya sebagai lesbian. Pekerjaannya memberinya posisi tawar yang nggak akan bisa didiskriminasikan oleh siapapun. Diskriminasi? Ke laut aja!

15 Comments »

  • Anonymous said:

    Hm…bagaimana kalau mereka yang berbahagia itu yang mencoba menuangkan kebahagiaan mereka dalam tulisan dan biarkan dunia membacanya? :)

  • Anonymous said:

    Anda bisa bilang bahwa anda bahagia dan bangga dengan kelesbianan anda dan punya keluarga yg hebat & teman-teman yg mendukung anda, akankah anda terus berbahagia jika keluarga anda ataupun orang-orang disekitar anda mengetahui kelesbianan anda kemudian mereka semua pergi meninggalkan anda, masihkah anda bahagia? Anda marah dengan tulisan penderitaan kaum L karena memang itulah kenyataannya, jadi sebenarnya anda takut menghadapi kenyataan, jika saat ini anda dan teman-teman L anda sedang berbahagia itu karena belum diketahui oleh orang-orang disekitar anda, kalo ketahuan apa anda masih akan tetap tersenyum bahagia? (Imaniar)

  • Anonymous said:

    Kalau anda membeli dan setelah membaca novel begituan kemudian anda menyumpah2 isinya, sama aja seperti menelan kotoran sendiri. Mana ada sih novel L yg mencerminkan kebahagian sebagai L?
    Novel L yg bagus skrg ini hanya beda di kemasan, cara penulisan, penerbit terkenal dan kebetulan di tulis oleh penulis2 terkenal pula.
    Novel Jgn Beri Aku Narkoba, Mencintai Jo (A.Endah), Gerhana Kembar (Clara Ng), secara isi ga ada bedanya dgn novel L yg murahan tadi. Ga ada bahagia2nya. Malah di Gerhana Kembar, salah satu tokohnya sakit kanker (?*?!)
    Sepanjang saya membaca novel L, hanya novel Relung Gelap Hati Sisi yg lebih realitis baik tokoh2nya maupun situasinya.
    Sagita

  • parikesit n1nna said:

    mengomentari komen imaniar, ga papa sih menceritakan ketidakbahagiaan menjadi L dan seperti kata pembuat opini ini : ada banyak buku seperti itu dan pembuat opini ini nerima2 aja (meski agak nggerutu).
    tapi menonjolkan ketidakbahagiaan dan perasaan (merasa) menjadi orang paling tidak bahagia di dunia ? well, itu agak menyedihkan membacanya jika tertulis di dalam sebuah buku (mending nulis blog aja yg notebene nya diari). apalagi dengan tatabahasa yang g karu2an dan berhasil terbit karena maksa. plus isi yg g mendidik. bisa bertambah buruklah stereotype tentang lesbian. dan mestinya orang2 yang nulis itu ngrasa donk kalo bukan cuma dia yang (paling) menderita, g perlu terlalu meraung2 gitu, kayak atiek cb aja :)
    peace…

  • Anonymous said:

    Memes: gue biar miskin katro g berpendidikkan tinggi g bakalan mau baca novel murahan kaya gitu
    Tere: kayanya nih si ceacilia n lakhsmi gayanya borju tp selera katro ya mes?
    Memes: tumben yayangku kali ini bener ngomongnya!
    Tere: (dgn hidung kembang kempis di puji memes), kalo L miskin katro kaya qt di buat novel,kira2 laku g mes?
    Memes: Gue yakin yakin banget g laku!!!
    Tere : koq g laku?
    Memes: bgmn laku wong hidup qt bahagia. Yayangku ada penyakit kanker?
    Tere: g tuh. paling meler aja
    Memes: invalid?
    Tere: g juga, cuma malas mikir.
    Memes: narkoba?
    Tere: ehmm ngerokok sampurna a mild?
    Memes : so?
    Tere: apakah kamu bahagia dgnku mes? (dgn muka berharap2 cemas)
    Memes: kamu sehat,ak jg sehat, aku bahagia. biar hidup qt miskin katro sosialis tp qt bukan L yg muna!
    Tere: ehhmmuuaaaacchhhh!

  • Anonymous said:

    Lak Lak.. kamu lg cari perhatian y? Blog JA di tutup, jangan dong kamu tumpahkan emosi extrememu k sepoci, plisss deh?! Jangan2 si ceacilia choo ini kamu juga Lak? Apakah Lak lg bereksperimen mewujudkan regenerasi seorang Lak dgn pemikiran dan emosi yg extreme melalui ceacilia? Amit2 dah, cukup satu Lak yg pernah lahir dr sepoci.

  • Anonymous said:

    Hai Ceacilia & Laksmi,
    Senang sekali ada yang bahagia dengan kehidupan lesbiannya, apalagi dengan dukungan positif orang-orang terdekat ditambah dengan karir yang oke. Jangan lupa untuk mensyukuri hal itu.
    Tapi memang masih banyak kenyataan yang berbeda di luar sana. Bagaimana jika mereka mempunyai pertimbangan sendiri, terlihat bahagia dari luar, sedangkan dalamnya kan hanya mereka yang tahu. Mungkin hanya dengan tulisan (yang seadanya) mereka bisa jujur, karena di luar itu mereka harus jadi orang lain.
    Kalau untuk tulisan yang meratap-ratap dkk …. ehmm mungkin mereka harus belajar banyak dari Ceacilia & Laksmi ;-)
    Tapi biar bagaimanapun, bahagia memang hak semua orang, hanya caranya yang berbeda.

    (btw saya selalu jatuh cinta dengan tulisan Laksmi, salam kenal untuk kalian berdua)

    [sabine]

  • Anonymous said:

    hahahaha…komentar pertama, ke dua,ke tiga, dan ke lima : keren, lucu, menyenangkan!

  • Jupie said:

    Sshhh… Haaahhhh… Pedes banget comment2nya(kalah deh rujak bikinan tetangga).

    Jadi inget ama ‘Regarding Lady’ yg dulu pernah bikin aku geleng2 pengen ikutan nempeleng, trus ujung2nya malah kebalik jadi aku yang kena tampol dan akhirnya malah terus2an nyosor.

    Hahaha… seru-seru!! Ampe saat ini, cuma belatinya Lax yg bisa bangunin macan tidur. SALUTE!!!

  • Anonymous said:

    gue rasa Lakhsmi ngelempar bom dan bikin wacana yang bikin kita rame sendiri. Tul nggak, Lakhs? (*twink*). lo emang crime-organizer yang hebat.
    Gue sih seneng2 aja Lakhsmi nulis yang kayak gini, nggak ada yang seberani dan sepedas coretan tangan dia. lakhs, gue sih nggak setuju dengan beberapa pendapat lo, tapi gue hargai kemampuan lo menghidupkan kata-kata yang seperti kata Jupie ‘membangunkan macan tidur’. hebatttt…. jangan turun semangat menulis yang model gini, gue mau maki2 lo tapi ini maki2 penuh kebanggaan.
    buat ceacilia (nama lo ribet banget), belajar keberanian dari lakshmi yaa… ketauan tuuhhh.. jangan sembunyi di punggung lakhsmi dong, kalau mau pedas, pedas aja.. gue doyan yang hot n spicy kok. salam kenal.
    *lyza

  • Ceacilia Choo said:

    Hi all, nice to know you all. I didn’t hide behind Lax’s back. In fact, my writing was suck and Lax helped me to rewrite. It was I who put her name after my name to honor her as my writing angel :) Lax, you are the best! Thousands of kisses for you. For readers, thanks for your comments! Lovely, lovely, lovely!!! //CC

  • outsider said:

    tch…tch…why u all have to leave a comment like that??we’re in democratic country no?so i think she have the right to read and write anything she like without u all have to comment like that.

    untuk yang kurang mengerti tulisan yang diatas yah belajar lagi deh sana bahasa inggris yah.

  • jeephie said:

    tak semua kisah ttg L tragis,bnyak jg yg Happy Ending

  • binanga said:

    Dear Ceacelia and Lakhsmi,

    Senang rasanya menemukan situs yang ‘kelompok orang-orang istimewa” dengan pemikiran dan bahasa yang sangat santun. Saya setuju bahwa banyak orang menggambarkan keistimewaan lesbian dengan cara yang ‘menjijikkan’ dan sangat jarang orang-orang yang mengaku dirinya ‘normal’ mau mengakui bahwa perempuan yang lesbian juga punya berjuta-juta kelebihan, keindahan dan keromantisan yang mungkin tidak dipunyai oleh orang-orang yang menganggap dirinya lebih sempurna. Salam.

  • binanga said:

    Dear Ceacilia and Lakhsmi,
    Senang rasanya menemukan situs ‘kelompok orang-orang istimewa’ dengan pemikiran yang intelektual dan berbahasa santun. Saya setuju bahwa banyak orang yang menggambarkan kehidupan lesbian dengan cara dan bahasa yang sangat ‘menjijikkan’. Tidak semua perempuan Lesbian itu cantik tapi saya yakin : perempuan lesbian yang jelek sekalipun pasti punya hati yang cantik. Saya ingin sekali ‘orang-orang yang mengatakan dirinya normal’ menjadi tahu bahwa lesbian bukan sekedar ‘urusan ranjang yang berbeda’ atau dunia ketiga yang tragis. Rasanya juga tidak perlu ada yang ditangisi dari ‘perbedaan istimewa’ yang sering membuat Lesbian dimarginalkan. Tetap semangat dan nikmati hari-hari yang Tuhan berikan. Salam.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.