Lesbian , Sebuah Realitas Tersendiri
Beberapa hari yang lalu, barangkali satu minggu yang lalu, aku dan partner datang ke sebuah komunitas lesbian di Jakarta. Ya, komunitas lesbian yang membuat aku dan partner juga bersemangat untuk sama-sama membuat sebuah komunitas yang serupa di Yogyakarta juga. Berhubung di Yogya ini lesbian masih jauh tertutup dibandingkan dengan gay dan warianya (tidak bermaksud untuk tidak menghargai teman-teman lesbian yang memutuskan untuk tidak coming out sebab jika membahas tentang coming out, harus juga mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya).
Sampai di sana, seperti biasanya aku dan partner disambut dengan suasana yang selalu hangat dari teman-teman di Jakarta. Yap, kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya di tempat lain. Membuatku benar-benar yakin bahwa sisterhood memang nyata, tidak hanya terletak pada dunia maya. Tidak peduli dengan usia dan label. Setiap jabatan dan pelukan adalah sebuah kerinduan yang memotivasi. Yang membuat pedalaman merasakan kenyamanan yang benar-benar lama.
Di situ kebetulan ada beberapa mahasiswi dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) yang tengah magang selama dua bulan. Mereka mencoba untuk mengangkat persoalan kaum marjinal yang menjadi tugas dari sekolah mereka.
“Kenapa sih tertarik untuk mengangkat isu lesbian, padahal persoalan kaum marjinal kan banyak. Anak jalanan, perempuan yang dilacurkan, gelandangan dan pengemis juga adalah bagian dari kaum marjinal?” tanyaku kepada mereka.
“Ya, karena isu lesbian selama ini masih jarang diangkat ke permukaan dibandingkan dengan isu-isu kaum marjinal yang lain,” jawab mereka.
Aku mengangguk tanda setuju. Walaupun sisi lain juga aku tidak sepakat dengan pengelompokan isu lesbian sebagai bagian dari persoalan kaum marjinal. Aku sepakat ketika seseorang memutuskan diri untuk menjadi seorang lesbian, ia serta merta akan mendapatkan subordinasinya karena masyarakat akan memberikan label abnormal, menyimpang, sakit, dsb. Tapi aku tidak sepakat ketika perjuangan identitas lesbian ini menjadi sebuah isu sentral kemarjinalan. Berapa banyak lagi lesbian yang akan merasa makin tidak nyaman dengan keberadaannya ketika orang lain, setidaknya kita sendiri memberikan penyebutan bagi diri kita sebagai orang yang termarjinalkan, terpinggirkan?
Bagiku, identitas seksualku sebagai lesbian adalah sebuah identitas politis. Di mana aku setidaknya bisa menumbangkan semua konsep dan norma sosial yang mengatakan bahwa lesbian itu harus dihapuskan dari muka bumi yang konon katanya hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang heteroseksual saja. Cukup dengan menunjukkan satu hal yang riil; dengan menunjukkan bahwa diriku tengah ada di antara mereka yang sibuk berkoar-koar untuk melenyapkan orang-orang yang non-hetero dengan aturan-aturan mereka yang sama sekali tidak rasional.
Ketika mereka sibuk menegasikan keberadaan lesbian di lingkungan mereka dengan cara memperketat dan meluhurkan norma-norma setempat dengan legitimasi Tuhan dan moral, aku cukup meruntuhkan penegasan mereka dengan menyodorkan diriku sendiri; secanggih apa pun aturan sosial yang mereka tengah buat demi meniadakan lesbian tapi sama sekali tidak berefek apa-apa. Realitas lesbiannya tetap ada. Fisiknya tetap ada. Karya-karya yang dihasilkannya tetap ada. Dan itu tidak bisa terbantahkan lagi.
Itu kenapa aku lebih suka menyebut identitas seksual sebagai lesbian sebagai sesuatu yang politis, bukan bagian dari realitas yang marjinal. Aku tidak mau memberi kesempatan pada pikiranku untuk mensugestikan diriku sebagai bagian dari masyarakat marjinal, yang pada akhirnya hanya akan menjadi marjinal untuk selama-lamanya. Benar memang ketika aku memutuskan memilih untuk menjadi lesbian, akan banyak pertentangan dari lingkungan di luar diriku, tapi bukan berarti aku harus tunduk dengan pencitraan yang mereka berikan terhadapku, yakni sebagai seorang yang termarjinalkan alias terpinggirkan. Aku memiliki citra atas diriku sendiri. Untuk menciptakan ruang bagi keberadaanku sendiri. Agar tidak ada lagi yang bisa menghapuskan atau membuat ruang tersebut tidak terlihat.
Karena aku menjadikan identitas seksualku sebagai identitas yang politis. Di mana aku bisa menunjukkan kemampuan dan keahlianku sebagai perempuan, yang juga merangkap sebagai lesbian.
Maka aku membiarkan mereka yang berusaha membuatku termarjinalkan membaca setiap karya yang kutorehkan. Maka aku membiarkan mereka yang meminggirkanku menyadari bahwa aku tengah membuat sejarah bagi diriku sendiri.
Dan mereka barangkali hanya bisa meneriaki saja sampai suara mereka serak dan kehabisan, lalu mereka diam. Diam dan tak berkutik. Hanya mampu mematung dengan ribuan gulungan undang-undang yang mereka buat tentang apa yang patut dan apa yang tidak patut.
Di sekeliling dunia yang sedang mempropagandakan dengan hebat lewat embel-embel moral dan Tuhan bahwa lesbian adalah sebuah keabnormalan, aku dan partner, dalam ruang terhangat yang tidak mungkin bisa terbantahkan lagi, tengah berbagi pedalaman dan energi yang juga belum ada habis-habisnya. Siapa yang mampu meniadakan realitas itu?
Bahkan Tuhan pun enggan melakukannya…
@Edith Weddel, SepociKopi, 2008










Saya setuju sekali. Sampai sekarang saya nggak suka dengan stigma “kaum terpinggirkan”. Sebenarnya siapa sih yang menancapkan stigma itu: Kaum kita sendiri atau masyarakat? Apakah kita sendiri yang memang meminggirkan diri kita ataukah masyarakat?
Sejujurnya….. dua-duanya.
lesbian = marjinal?
Temans…
Apakah kita marjinal?
Maukah kita dimarjinalkan?
Bagaimana kalau kita dipaksamarjinalkan?
Kalau tidak marjinal kita ini apa?
*Rain
kakak-kakak semuanya,
tahu nggak sih aku baru tahu kita kaum marjinal justru sejak aku masuk ke dunia maya dan membaca-baca tulisan di komunitas/forum lesbian. malah sebelumnya aku nggak pernah merasa menjadi kaum marjinal.
dan menurutku nih… kadang2 kita sendiri kok yang suka membesar2kan soal marjinal ini, kalau kita nggak mau dipinggirkan ya jangan merasa dipinggirkan. Halah, berdirinya jangan terlalu minggir nanti nyemplung got atau kesamber angkot….
hahaha, maaf komennya agak bercanda…. tapi ada seriusnya kok!
ya ampun … kayaknya dunia ini udah kepenuhan merek deh … sampe urusan pilihan orientasi seksual digolongkan kaum marjinal … aku jadi amazed …
salam dr jogja juga, edith
hadoh.. koq malah dibilang orang jogja ngumpet yaks??
sebenar na mungkin lebih banyak ke bentuk ‘klik’ yang tidak terorganisir/dibawah lembaga..
apa pun itu, if you come to Jogja let me know.. I’ll show you.
Edith, dari skala 0-100%, aku 175% sepakat&mendukung tulisanmu. Aku hanya ingin menambahkan. bahwa ketika kamu memposisikan identitas lesbian sebagai identitas politis, maka aku juga ingin menempatkan posisi yg sama terhadap istilah ‘..marjinal..’. Kenapa aku beri titik di depan&belakang kata dasar itu, krn dlm terminologi bahasa Indonesia, penambahan imbuhan atau pemakaian kata dasar saja, bisa membedakan arti dan makna kata. Kadang, pelabelan sebagai istilah yg mjd standar penyebutan, sangat sulit dihindari dlm kondisi tertentu, tarohlah dlm gerakan sosial. aku meyakini bahwa pemilihan istilah menentukan perspektif seseorang atau lembaga dalam memandang dan memposisikan sebuah komunitas. Marjinal, bisa diartikan ‘not of central importance’ (Merriam-Webster Dictionary).ketika menjadi ‘termarjinalkan’, dalam konteks yang kita bicarakan, maka ada makna ‘ketidaksengajaan’ utk membuat lesbian mjd marjinal’, misalnya stigma sebagian masyarakat yg sebenarnya akan hilang jika mereka mengenal, tahu, paham dan akhirnya menerima,bahkan lebih jauh, ikut mendukung perjuangan komunitas lesbian. lalu ada lagi ‘dimarjinalkan’. ada makna ‘kesengajaan membuat lesbian mjd marjinal’, ada sebuah sistem yang didasari norma, yg dlm bahasamu dilegitimasi atas nama Tuhan dan moral, sengaja memarjinalkan lesbian. jadi, ketika kamu mendengar istilah ‘..marjinal..’ dkk, di kalangan ‘awam’, komunitas lesbian sendiri, atau lembaga yg ikut memperjuangkan hak2 LGBT, aku pikir bisa saja krn memang saat itu dibutuhkan pemilihan istilah utk penyebutan (yg sdh kukatakan-sulit dihindari, krn mungkin komunitas yg dibicarakan sangat beragam), atau ada juga unsur ‘kebiasaan’, karena istilah itu sdh jamak dipakai, mewakili setiap komunitas atau kelompok masyarakat manapun yg diabaikan oleh sistem (apapun). bagi aku sendiri, kalau harus memilih istilah, maka aku akan memakai ‘dimarjinalkan’. Karena sistem yg sdh kita bicarakan tadi, dgn sengaja ‘memarjinalkan’ lesbian. Kita pasti tahu bahwa Undang2 dan berbagai kebijakan publik, memarjinalkan lesbian (baca:perempuan). Karena fakta dan kesadaran itulah kita harus memperjuangkannya. Istilah ‘dimarjinalkan’ bisa mjd justifikasi bahwa kita harus mendekonstruksi sistem yg sengaja membuat Lesbian mjd marjinal dlm ranah sosial, politik, hukum, kesehatan, ekonomi,agama, budaya,pendidikan dst. disinilah titik ketika istilah ‘dimarjinalkan’ mempunyai muatan politis. Di sisi lain, ketika kita abai dan membiarkan teman2 lesbian yg masih merasa terpinggirkan dan juga dipinggirkan, maka kita sedang memarjinalkan mereka. Namun, ketika kita mendengar kawan ‘seperjuangan’ kita berteriak ‘Ayo kita perjuangkan hak-hak komunitas marjinal!!’, dan kita melihat dia benar2 melakukan aksi nyata utk memperjuangkan hak-hak itu, aku yakin 100%, ada unsur ketidaksengjaan dan ketidakpahaman ketika dia memilih istilah tersebut, tapi aku juga yakin, tidak ada maksud dari dia untuk memarjinalkan dirinya sendiri, atau memarjinalkan komunitas lesbian dan komunitas lain yg memang sedang ‘dimarjinalkan’..
Salam keberagaman..
lah..napa q ngerasa biasa ja yak?..normal2 ja gitu,,, ga beda ma yg lain.. hehehe..
Keren bgt kata2nya, aku stuju bgt ma tu artikel.
Ayolah boy… dimarjinalkan, dipaksamarjinalkan, ato bermarjinal?termarjinal?bahkan memarjinalkan? ah… toh kata dasarnya tetap marjinal. hetero yang memarjinalkan, kita yang bermarjinal dan termarjinalkan, akhirnya sama saja, dasarnya tetap sama, marjinal. lantas apa gunanya kata marjinal itu sekarang ?
makhluk terindah yang pernah ada, hingga menjadi 1 dari 3 surga dunia. selain harta dan tahta.
serorang wanita tidak akan pernah benar-benar jadi wanita, bila dia tak meyakini memiliki penjaga dunianya.
menjaga di kala malam penuh hujan, ataupun dikala siang gelap gulita, dengan sepenuh hati dan harga diri.
seperti aku yg kan korbankan tiap tetes darahku untuknya. karena aku lelaki yang kan menjalankan tugas sebagai penjaga, pemuja, dan pecinta bagi seorang wanita.
terutama dia yang aku cinta dengan segala yang ada padanya.
*bisakah melakukan peran seperti diatas…????????
hidup itu tak pernah seperti apa yang dibayangkan, mimpi pun tidak pernah sesuai harapan. jika semua berjalan sesuai kehendak….itu…????
:::: KHAYALAN ::::
ketika ak tengah di landa kegelisahan dngan apa yang tengah aku jalani,sa’at itu pula batin dan logikaku bergejolak,dan ber efek kepada diriku sendiri,ideologi makin memuncak ketika itu keterasingan ku alami,bergantinya waktu,ak sdr akn ketrasingan ku yang hdup tak heterogen,mengapa orang_orang di luar tak pernah mengerti dan mengetahui bahwa apa yang d cari d dunia bukan harta,benda,tahta.akan tetapi kenyamaman,kenyamamam dalam hidup,kenyamanan dalam memilh jalan.seperti dri ku telah ku tmukan kenyamanan dalam hdup lerbian.namun ternyata tak semudah itu,trnyata aku harur menghadapi realita hdup bermasyarakat yang heterogen,kami ter singkirkan dengan dalih,kemarginalan.sampai saat ini kami masih berjuang menghadapi hidup.
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 63 queries. 1.991 seconds.