Home » God, Humaniora, Renungan, Spiritualisme, Tentang Cinta

To Love You

3 August 2008 185 views 8 Comments

Oleh: De Ni

Lama… Lama sekali menunggu waktu untuk berjumpa denganmu. Cepat… Cepat sekali waktu berjalan saat kita bersama. Aneh. Mengapa waktu begitu cepat? Apa karena kita tidak melihat jam? Apa karena jam tidak melihat kita?

Hai Waktu, mengapa kau begitu tidak adil? Ketika aku tidak bersamanya, kau berjalan sangat lambat. Tapi ketika aku bersamanya, kau berjalan begitu cepat. Tidakkah engkau mau menghadiahkan yang kuinginkan ketika bersamanya?

Tapi aku tahu tak mungkin. Tidak mungkin waktu bertambah menjadi 25 jam dalam satu hari. Waktu akan tetap sama, akan tetap kikir dan sombong pada kita.

Biarlah aku memohon kepada Tuhan saja. Untuk menambahkan sukacita, makna dan arti ketika kita bersama. Agar saat aku bersamamu, seberapa pun waktu yang aku miliki. Tuhan menjadikan aku penolong bagimu yang akan membuatmu menjadi manusia yang lebih baik. Aku sayang kamu

Aku cinta kamu, honey.

***

Ini adalah isi surat cinta yang diberikan oleh kekasihku beberapa waktu lalu. Kekasihku memang bukan penulis. Ia tidak pandai mengungkapkan kata-kata dalam bait-bait puitis cinta. Gadis manis itu lebih suka berkutak-katik dengan angka-angka matematika. Tapi isi suratnya cukup kuat untuk memaksaku merenung. Membaca surat dari kekasihku ini membuatku teringat pada kejadian beberapa waktu silam, saat aku menyaksikan seorang lesbian yang sedang konseling dengan sahabatku, dan hal yang membuatku kaget adalah pertanyaan sahabatku: “kamu sudah diapakan sama pasangan kamu itu?.” Aku agak jengkel mendengarnya. “Diapakan?”, emangnya apa? Memangnya kaum lesbian adalah perempuan yang menggembara mencari pasangan sejenisnya untuk diajak berhubungan seks, melampiaskan nafsu ranjang dan setelah naluri seks terpuaskan, sang kekasih ditinggalkan begitu saja?

Sungguh mengerikan kalau memandang hubungan cinta sang lesbian hanya sebatas seks, nafsu, dan ranjang. Sebab hubungan cinta sang lesbian tak ubahnya dengan hubungan cinta kaum hetero. Hubungan pasangan lesbian bukanlah hubungan yang semata-mata dibangun atas dasar nafsu birahi dan luapan emosi seksual yang membabi buta. Hubungan sang lebian adalah hubungan yang juga berpondasi cinta, cinta yang murni. Memang seolah-olah hubungan itu terkesan sebatas hubungan seks semata, karena tak ada pernikahan seperti yang dipikirkan kaum hetero didalamnya. Pernikahan yang legal, ramai, dihadiri banyak orang dan disaksikan banyak pasang mata. Ketika lesbian bercerai pun tidak ada persidangan agama, sehingga sang lesbian dianggap mudah berganti-ganti pasangan. Inilah yang membuat hubungan lesbian dianggap pesta seks bebas , karena hubungan seks dilakukan tanpa sebuah pernikahan yang legal dan para lesbian mudah berganti-ganti pasangan.

Tapi hal ini bukanlah sebuah alasan untuk menilai bahwa hubungan cinta sang lesbian hanya untuk memuaskan urusan vagina semata. Tidak dipungkiri ada lesbian yang berpacaran hanya karena sebuah kebutuhan seks, tapi bukankah kaum hetero pun melakukan itu? Sehingga banyak rumah pelacuran yang dikunjungi lelaki yang hanya mencari kepuasan seks. Juga banyak tante-tante girang yang mencari para gigolo untuk pelepasan birahinya. Bukankah kaum hetero pun banyak yang melakukan perceraian dan gonta-ganti pasangan? Apakah saat perceraian terjadi menunjukkan bahwa mereka menikah hanya karena kebutuhan seks semata? Bukankah ada begitu banyak lesbian yang setia hidup dengan pasangannya bertahun-tahun, bahkan sampai kematianlah yang menjadi pemisah bagi mereka? Bukankah terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa hubungan lesbian dibangun atas dasar kebutuhan seks semata?

Hubungan cinta lesbian adalah sama, terbangun karena sebuah cinta. Aku menikahi kekasihku karena aku mencintainya bukan karena nafsu seks. Memang kami melakukan hubungan seks dan aku sangat menikmatinya. Tapi saat kekasihku enggan melakukan hubungan seks, aku tidak akan memaksanya apalagi marah-marah. Sebab kehidupan yang kami bangun maupun masalah yang kami hadapi dan bicarakan bukanlah semata-mata urusan ranjang. Kami saling menopang, saling membangun, saling menasehati, menguatkan, menegur, memuji, mendengar, mengungkapkan isi hati, memecahkan masalah, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, membantu orang lain dan sederet kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan seks.

Bagiku, lesbian adalah sebuah hubungan yang dibangun atas dasar cinta yang di dalamnya terdapat kesediaan kedua pasangan untuk memberikan kualitas dalam hubungan tersebut. Untuk menjadi penolong partner agar menjadi orang yang lebih baik. Tak peduli seberapa lama Tuhan mengijinkan kami bersama , tapi seberapa pun waktu yang kami miliki aku ingin menjadikanlah hubungan kami berkualitas. Seperti harapan partner dalam suratnya, untuk memberikan sukacita, makna dan arti pada partner. Sehingga kalaupun suatu saat aku tidak bersama dengan partner, aku sudah memberikan banyak hal berharga yang membangun hidup dan masa depan partner.

Bagiku, adalah hubungan yang berkualitas ketika partnerku memarahi saat aku ingin berkelahi dengan abangku, ketika ia menghadiahkan sebuah buku berkualitas untuk dibaca, ketika ia mendorongku untuk menyelesaikan kuliah S2 yang masih berantakan, ketika kedua tangan lembutnya menarikku untuk berdoa bersama. Ketika ia mengingatkan agar aku selalu bersyukur pada Tuhan , ketika ia mengisi laptopku dengan artikel-artikel yang bermanfaat, ketika ia memberikan sebuah jaket tebal untuk bermotor, ketika ia memelukku saat aku menangis dan memberikan jutaan nasehat, ketika ia mendidikku untuk mandiri dan menyelesaikan semua tugas kantor dengan tepat waktu, ketika ia memaksaku untuk menum vitamin setiap hari, ketika ia mengajakku kencan ke berbagai museum, ketika ia membelikan vitamin untuk rambutku yang pecah-pecah, ketika melarangku terlalu sering minum kopi, ketika ia tersenyum saat aku memberi uang pada pengemis dipinggir jalan, ketika ia tertidur dipangkuanku ketika menemaniku menulis sampai larut malam dan ketika ia membuat HP-ku panas menerima puluhan sms darinya yang mengingatkan: “Say, jangan telat makan dan minum air putih yang banyak ya.” Sungguh ini semua adalah kualitas sebuah hubungan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan seks.

Dan aku membalas surat cintanya.

***

Sayang, aku pun kecewa pada Sang Waktu. Ia begitu lambat saat aku tak bersamamu. Dan begitu cepat saat kita bersama. Tapi aku tak marah padanya. Aku bersyukur walau dia berjalan begitu lambat saat kau tak bersamaku.

Sebab waktu yang lama itu akan aku gunakan untuk memikirkan hal apa yang akan kuberikan saat aku bertemu denganmu. Untuk memikirkan kado apa yang aku hadiahkan untuk mengisi waktu yang singkat saat bersamamu.

Sehingga seperti harapan kita berdua, Tuhan menambahkan sukacita, makna dan arti buat kita berdua. Agar saat kita bersama – seberapa pun waktu yang kita miliki – Tuhan membantu kita saling menolong dan menjadikan kita manusia yang lebih baik.

@De Ni, SepociKopi, 2008

8 Comments »

  • Anonymous said:

    De Ni.. I like ur story…
    Aku suka cara berpikir kamu bahwa hubungan sepasang perempuan tidak hanya d dasarkan pada kebutuhan seks semata tetapi lebih kepada ikatan emosional dan kematangan dari hubungan itu sendiri.
    Saling membangun, menasehati, menopang, memuji, mendengar, mengungkapkan isi hati dan saling melengkapi..
    De Ni.. Aku benar – benar suka sekali cara berpikir kamu…

    Salam kenal… (“(^O^)”)
    -Carry-

  • Jo said:

    Dear De Ni,

    Tulisan kamu yg ini langsung membuat kamu masuk di jajaran penulis favorit aku :)

  • apple said:

    betul banget
    ini sih yang membuat lesbian suka dianggap miring. karena banyak yg tdk memiliki pemikiran seperti jalan pikiran kamu.
    lesbian is Love, pure love. Bukan semata karena seks. Gue dah hidup ma yayang gue 10 tahun. Awet, setia

  • Rachel said:

    :) jadi inget my ex. She is a very fine lady .. dia selalu punya cara utk membuat saya happy tanpa harus guling-guling di tempat tidur

  • Anonymous said:

    love and passion, dalam love ada passion.

  • Angga said:

    Aq jg mrasa kdngkala hdpq ini sepi!aq lum tmukan seorg gdispun yg bsa mncntaiq apa adanx!aq g bth fisik!aq cma pengen cewq kelak bsa trima aq dng sgala kekuranganq!aq bkan butch yg gnteng aq g smprna!pa emg nie dah tkdrq msti hdp sndiri!TUHAN andainx aq dibri psngn hdp yg baik,aq jnji kan slalu jga dy.n syngi dy dg skuat tnaga n daya yg aq punx.

  • Disa said:

    Trmksh bwt SK yg tlh mbntu q kuat dlm jln tuhan,wlw kdg q ragu..

  • lil said:

    Jd ingat kata2 mantan q,,dy blng gini : “Cinta ?? lo kata ada cinta yg bukan ma lawan jenis ?? Bullshit !!”
    Hikz..Hikz..emang cinta tu cuma milik hetero yaa ??
    Tp setelah baca artikel ne,aq jd punya smangat,cinta tu bkn hnya milik hetero tp seorang Lesbian jg punya cinta,karena cinta ta mengenal siapa pun.. ^^

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.