Rumah Umi
Di saat menjelang lebaran begini, saya sering terkenang pada Umi. Buat saya, Umi ibarat ibu kedua. Dia adalah perempuan tua tetangga sebelah rumah, janda yang usianya lebih tua sedikit daripada usia ibu saya. Sejak saya jadi anak yatim ketika berusia lima tahun, ibu saya harus bekerja dari pagi hingga sore untuk menghidupi lima anaknya. Di rumah ada masanya ketika kami tidak punya televisi, sehingga akhirnya saya lebih sering main ke rumah Umi pada siang hari sepulang sekolah.
Umi memiliki usaha katering makanan Arab-Timur Tengah. Saya menikmati menonton kesibukan memasak diiringi teriakan-teriakan ibu-ibu tukang masak di sana. Dan biasanya saya mendapat jatah jika ada makanan lebih. Hampir setiap bulan saya bisa menikmati sajian nasi kebuli, roti maryam, atau gule kambing, atau diberi satu-dua butir kurma oleh Umi di kala puasa. Jangan tanya makanan apa yang disajikannya saat lebaran, pokoknya saya pasti kenyang banget sepulang dari rumah Umi. Dan Umi tahu saya paling doyan nasi kebuli kambingnya. Pada saat Imlek, Umi pasti mengantar makanan Arab buat Ibu, dan nasi kebuli jadi makanan favorit saya setiap Imlek, meskipun Ibu bilang saya jadi bau kambing sehabis makan.
Kalau Umi tidak sedang sibuk dengan kateringnya, saya duduk-duduk di rumah Umi, kadang-kadang duduk menikmati embusan angin di depan pintu sambil mencari kutu. Umi kadang-kadang terlalu pelit menyalakan TV hanya buat saya, jadi lebih sering saya memandangi TV berlemari yang tertutup itu kemudian membaca harian Lembergar Pos Kota yang saya bawa dari rumah. Tidak jarang saya tidur siang di atas karpet di ruang tamu sementara Umi duduk-duduk di dekat sumur di belakang rumah bersama ibu-ibu lain. Setiap kali saya masuk ke rumah Umi, saya sudah siap-siap mencium wangi minyak samin dan parfum Arab. Jika saya memejamkan mata saya sekarang, kenangan tentang aroma itu pasti akan menyerbu masuk menjelajahi indra penciuman saya.
Suatu hari saya pernah masuk ke kamar Umi dan melihat lukisan kaligrafi indah tergantung di dinding. Tidak ada hiasan foto di sana. Sewaktu melihat Umi salat, saya melihatnya dengan rasa takjub. Pernah sekali saya mengenakan sarung sebagai mukena dan mencoba mengikuti gerakan salatnya. Umi tertawa melihat saya, kemudian dia berkata, “Kamu nggak boleh salat, karena kamu bukan Islam.” Saat itu saya berusia enam tahun dan tidak mengerti kenapa saya tidak boleh jadi Islam seperti Umi.
Di rumah, Ibu tidak pernah memberi pelajaran agama. Saya hanya tahu bahwa saya keturunan Cina, dan semua orang Cina yang saya kenal punya keharusan untuk beragama Buddha. Tapi saya sama sekali buta tentang agama Buddha. Apalagi ibu saya bukanlah orang yang tahan beragama, tambahlah saya jadi tuli. Nanti semasa dewasa saya baru punya pengetahuan banyak tentang agama Buddha, tapi saat saya SD, saya sama sekali tidak mengerti. Dan saat dewasa barulah saya tahu bahwa agama Buddha yang saya kenal semasa SD ternyata agama Buddha bohongan.
Pada saat itu pengetahuan agama yang saya tahu berasal dari kuliah subuh KH. Kosim Nurzeha yang terdengar setiap pagi dari radio Umi yang disetel begitu keras sehingga suaranya terdengar sampai ke kamar saya dan Ibu. Setiap kali musik melantun mengakhiri kuliah subuh dari radio Kayu Manis itu saya tahu sudah saatnya saya bangun dari ranjang dan bersiap-siap ke sekolah. Biasanya kalau saya bangun pada saat kuliah subuh itu masih belum tamat, saya bisa melihat Ibu tertidur di kursi rotan di luar dengan si belang berbaring melingkar di perut Ibu. Tapi itu pemandangan langka, dan lebih sering saya tidak bertemu Ibu pada pagi hari karena dia pasti sudah berangkat kerja ke tempat yang buat otak enam tahun saya terdengar sejauh Alaska.
Kemudian ketika saya berusia sepuluh tahun, Umi meninggal dunia. Saya berdiri lama sekali di depan rumah Umi memakai celana pendek dan kaus warna putih. Bingung, karena saya tidak bisa masuk berlari ke rumah Umi seperti biasa. Rumah Umi begitu ramai oleh pelayat. Saya baru tahu melihat anak lelaki Umi yang bertubuh tinggi besar dan berbulu, dan saya juga baru melihat cucu Umi yang seumuran saya, yang tinggal di daerah Kebon Nanas. Saya baru tahu bahwa penyakit kencing manis ternyata bisa membuat orang meninggal, bukan cuma kanker seperti yang diderita ayah saya.
Saya berdiri di luar. Tidak pernah melangkah masuk ke dalam rumah Umi dan melihat jasadnya. Untuk pertama kalinya saya merasa tidak diinginkan di rumah itu. Tidak ada lagi Umi yang dengan suara keras menggelegar memanggil saya untuk bangun tidur karena sudah sore. Atau tawanya yang membahana setiap kali dia mengajukan pertanyaan favoritnya, “Kamu anak Cina atau anak Arab?” Dan biasanya saya akan langsung menjawab sambil ikut tertawa, “Anak A-ab, Umi.”
Sejak saat itu tidak ada lagi kuliah subuh, tidak ada lagi nasi kebuli, tidak ada lagi tidur siang di karpet berwarna merah marun di lantai rumah Umi.
Dan lebaran kali ini saya begitu rindu pada Umi.
Pernah saya bertanya dalam hati, Kalau saya meninggal nanti, akankah saya bertemu Umi lagi? Katanya, surganya orang Islam tidak sama dengan surganya orang Buddha. Katanya lagi, surganya orang Buddha tidak sama dengan surganya orang Kristen. Dan surganya orang Kristen tentu beda dengan surganya orang Islam. Belum lagi surganya manusia lesbian yang pasti akan beda dengan surganya manusia hetero. Pemikiran yang aneh, menurut saya, padahal katanya Tuhan itu satu.
Jika saja setiap manusia menciptakan surganya sendiri. Dalam surga ciptaan saya, saya akan bertemu lagi dengan Umi di dalam rumahnya. Duduk-duduk di karpetnya, mencomot roti maryam yang masih hangat sambil diteriaki oleh Umi, lalu berlari pulang dan mendapati ibu saya sedang berbaring di kursi malas dengan si belang tidur melingkar di atas perutnya. Di rumah Ibu, saya juga melihat partner sedang duduk membaca di ruang tamu, dan tersenyum memandang saya ketika melihat saya masuk. “Yuk, Sayang, kita ke rumah anak-anak dan cucu kita.”
@Alex, RahasiaBulan, 2008










duh lex… menyentuh…aku suka bangetttt
ujan
Roti Maryam dicocol madu yummieee.. Nice story *g*
nice story….
omong2 tentang Umi, aku juga kangen sama Umi, tapi Umi yang ini penjaga kosku dulu…ama anakny dipanggil Umi, jadi 1 kost juga panggil Umi… orangnya baiiiiiik banget, ga pernah marah, sering migrain yg pindah2 tempat, sambel bikinannya enaaaak bgt… kangen masakannya euy….
jadi kangen kost lagi disitu…. ^_^
(numpang curhat kykny…)
*ceritamu menyentuh*
Bc tlsn ini inget Kosim Nurseha, ingat jaman SD dl. Pagi2 bpkku jg muter radio kayumanis segede2 gaban biar pada bgn subuh n siap2 sekolah..
*semoga rahmat, kasihsayang, dan hidayah Allah tercurah untukmu jg. amiin.
em
Cerita yg menbuat rndu q menggebu..
Rindu memiliki surga yg d isi olh org2 yg kt cntai,kt sygi,yg mcntai n myangi kt,wlw beda agama..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 64 queries. 0.809 seconds.