Sejenak Merenung di Perkebunan Riau
Oleh: Arie Gere
Provinsi Riau, beberapa tahun belakangan ini telah disulap menjadi salah satu kota industri kelapa sawit terbesar di Indonesia. Tanahnya yang subur mengalirkan minyak kelapa sawit menjadi minyak penggorengan terlaris di dunia, selain minyak kedelai dan minyak jagung. Sebelum diolah lebih lanjut, minyak tanaman itu masih berupa mentahan CPO (Crude Palm Oil/Minyak CPO) dan PK (Palm Kernel/Inti Sawit) yang harganya sempat melambung tinggi mencapai Rp10.000/kg, namun sekarang anjlok mencapai level Rp2.400/kg. Ah, sungguh drastis efek krisis ekonomi global yang melanda dunia sekarang ini. Di saat irit begini, semua perusahaan yang terkena imbas krisis mulai melakukan penghematan besar-besaran. Mulai dari pemakaian kertas, fotokopi, perjalanan dinas, semuanya di-cut sampai batas seminimal mungkin.
Sudahlah, kali ini aku tak mau membahas krisis ekonomi yang memuakkan itu, namun aku ingin bercerita mengenai kehidupan di perkebunan kelapa sawit di salah satu wilayah di provinsi Riau. Nah, memasuki perkebunan kepala sawit yang membentang di sekeliling provinsi harus di mulai dengan perjalanan darat terdekat sekitar 1,5 jam dari inti kota, Pekanbaru. Itu adalah perkebunan terdekat dari inti kota, kalau mau yang terjauh sih masih lebih banyak lagi. Perjalanannya tak semudah yang dibayangkan, karena siap-siap saja, perut serasa dikocok sepanjang perjalanan. Lah, bayangkan saja, tak ada yang namanya aspal mulus di sepanjang perkebunan. Yang ada hanyalah tanah melekok-lekok, berbukit-bukit, tak rata dan becek berat bila terkena hujan. Alahai mak jang, bagi yang tak pernah mengalami perjalanan seperti itu, pasti akan mual dan pusing di sepanjang perjalanan.
Sebelum meluncur ke sana, sang kekasih berulang kali mengingatkanku untuk membawa anti nyamuk cair agar gampang dioles ke kulit. Nyamuk di perkebunan lumayan nakal, benar-benar nyelekit kalau menggigit. Aku pun berulang kali mengingatkan, semoga kekasihku mengerti bila setiba di sana komunikasi pun harus terputus-putus. Hiks, sinyal telepon genggam yang terhalang perbukitan, tak mampu menyampaikan pesan kasih yang sempat tertunda. Baiklah, sinyal itu memang muncul di titik-titik tertentu, tetapi kemudian hilang lagi ditelan masa. Halah, lelah aku mencari setitik sinyal itu, tak satupun kudapat. Entah karena telepon genggamku yang terlalu kolot modelnya sehingga tak kuat menjaring satu titik sinyal pun yang seliweran. Ah, umpatan kekesalan berulang kali keluar ketika titik itu gagal lagi kutangkap. Mau chatting dengan kekasih? Sudahlah, cuma mimpi saja, mana ada internet di sini. Akhirnya, aku memilih jalan-jalan saja di sekitar perkebunan itu dan kembali ke penginapan dengan hati berduka tak mendengar suara kekasih entah untuk beberapa malam.
Maka, tak heran bila para petinggi perkebunan tak membawa istri dan anak untuk tinggal bersama di daerah perkebunan. Tak semua orang, lebih tepatnya, tak semua perempuan kuat menjalani kehidupan seperti itu. Untuk belanja kebutuhan sehari-hari saja, harus menuju kota yang jaraknya paling dekat 1,5 jam dari perkebunan. Sekolah pun, yang ada hanyalah tingkat Sekolah Dasar, tingkat lanjutan pertama apalagi tingkat lanjutan atas, akan sangat jarang bahkan tak ada ditemui. Maka, berbondonglah-bondonglah para petinggi perkebunan menyekolahkan anaknya ke kota besar, sementara buruh pabrik ataupun pemanen harian lepas yang tak berduit, pasrah menerima kondisi kebodohan yang terabaikan. Yang berduit, bisa melanjutkan pendidikannya ke kota, sementara yang tak berduit, hanya melanjutkan jejak sang orangtua menjadi pemanen atau buruh di pabrik orang.
Bila sang istri petinggi perkebunan menikmati jalan-jalan di mal kota besar sementara sang suami pulang hanya semingguan sekali dari perkebunan. Maka di tempat lain, seorang istri bersama anak yang masih ingusan membantu suaminya memanen tandan buah segar kelapa sawit (TBS) untuk mendapatkan Rp20-80 per kg nya. Semakin banyak TBS yang di angkut, semakin banyak rupiah yang di peroleh. Entah bagaimana caranya, apakah dengan karung, beko, becak, atau apa sajalah agar TBS itu bisa diangkut dari kebun ke terminal TBS-nya.
Bagaimana mengukur kesetiaan seorang perempuan dilihat dari sudut pandang ini, apakah sang istri yang dengan pilihan melayani sang suami semingguan sekali, ataukah seorang istri yang tak punya pilihan selain turut membantu suaminya bekerja agar asap di dapurnya dapat terus mengepul? Kembali aku teringat pada kekasih yang nun jauh di sana, bagiku, kesetiaannya menungguku untuk kembali pulang, lebih dari segalanya.
Belakangan aku baru tahu, kalau pada sisa janjangan TBS itu, bila di taruh di daerah lembap akan tumbuh semacam jamur merang, yang lebih sering disebut dengan jamur janjangan. Ah, kaya sekali Indonesiaku ini, sisa janjangan TBS yang dilempar ke hutan pun bisa ditumbuhi jamur dan rasanya menyerupai daging yang sangat lembut. Enak dimakan, enak disup, enak digulai, enaklah pokoknya. Sayang sekali, aku tak sempat memakannya, bukan karena tak ingin, tetapi karena keengganan orang-orang kebun menyajikan sisa jamur ke meja makanku. Mereka takut aku tak biasa mencicipi jamur hutan sehingga nantinya aku bisa-bisa menjadi mual sebagaimana aku mencicipi air dari sumur asli yang rasanya asam dan hampir kumuntahkan, mau tak mau stok air mineral harus kuperbanyak di dalam kamar. Ternyata orang-orang di kebun ini sangat menghormati para tamu dari luar daerah, karena mereka akan berhenti dan menunduk bila kita melewatinya, sungguh merupakan tata krama yang tak akan pernah dijumpai di kota besar. Aku jadi teringat beberapa waktu yang lalu ketika aku berjalan di kantor, seorang CEO yang dengan lantang berdiri di tengah lorong kantor, sementara aku dan beberapa pegawai lain terpaksa jalan menyempit di pinggiran agar badan kami tak menyenggol tubuh angkuhnya itu.
Semoga, dengan perjalanan ini, aku dan kekasih, kembali diingatkan akan anugerah yang bertubi-tubi diberikan Tuhan kepada kita. Jalan raya yang mulus, mal, tempat perbelanjaan yang dapat dijumpai di mana saja, air minum yang bersih dan telekomunikasi yang dapat dilakukan kapan saja. Hidup harus dijalani dengan sadar karena semuanya tak ada yang mulus dan indah, tak ada yang lurus-lurus saja, tak ada yang tak berliku, begitupun dengan cintaku dengan perempuanku, semuanya harus diperjuangkan. Cita-cita, hidup, dan cinta, adalah paket perjuangan yang tak ada henti-hentinya untuk diacungkan selama kaki kita masih bertapak dengan lentera dunia.
@ Arie Gere, Sepoci Kopi, 2008










jadi inget perjalananku ke Duri belum lama ini…plus daerah di sekitar Palembang yang harus ditempuh 7 jam perjalanan…betul2 masuk hutan..miris liat kehidupan yang dilihat sepanjang perjalanan..dari pengalaman itu akhirnya kita harus bisa bersyukur untuk setiap pekerjaan dan anugrah Tuhan yang diberikan untuk kita…
duri….ah
AG ke pekanbaru? kok kita g jumpa ya? waduuh, sayang sekaliii
@ gendis : invite aku dong biar bisa masuk blogmu ,
@ anonymous : ah juga..
@ intan : slm kenal, di pku ya? wah nongkrongnya di mal SKA atau di mal PKU nih? heheehhehe..
-Arie Gere-
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 63 queries. 0.958 seconds.