Home » Have Your Say

Have Your Say: Ditinggal Kawin Kekasih

14 November 2008 127 views 19 Comments

flower_in_the_sky_by_ganja974Pernah ditinggal kawin oleh kekasih? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Nikita Lie yang bercerita tentang hal itu!

Di mataku, dia perempuan tercantik (meski aku yakin, semua perempuan itu cantik adanya). Berawal dari persahabatan, berlanjut dengan rasa ketergantungan. Setelah itu muncul rasa kekosongan yang menyengat jika salah satu tak ada. Lama-lama tumbuh rasa suka dan sayang, dan akhirnya pasrah mengikuti panggilan cinta. Aku tak peduli apakah dia sudah punya pacar, apakah aku akan ditinggal kawin dengan lelaki. Yang aku tahu, aku mau menjalani hari-hariku yang menyenangkan dengannya. Jadi sebelum benar-benar jadian, dia berulang kali bertanya padaku, “Nik, kamu mengerti kan someday aku pasti akan menikah dengan lelaki?” Aku menjawab ringan dengan gaya cool-ku “Oiya pasti! Perempuan secantik kamu, mana mungkin nggak kawin?”
Hari-hari berjalan cepat. Tak terasa, sudah tiga tahun kami menjalin hubungan. Rasa penasaran di awal percintaan untuk membuktikan kemampuanku menaklukkannya pelan-pelan menguap. Aku mulai meyakini aku jatuh cinta padanya. Benar-benar tak mau kehilangan dirinya. Namun suatu hari dia mengajak dinner, ingin berbicara serius padaku. Selesai menghabiskan dessert, dia memintaku duduk di hadapannya.

“Nik, masih ingat pertanyaanku yang duluuuu banget? Yang soal, suatu hari aku bakal menikah.”

“Oiya, kenapa? Kamu mau minta aku melamarmu kepada orangtua?”

“Bukan, bukan itu! Kamu tahu Phil?” Phil adalah kenalannya dari luar negeri. Lelaki yang aku tahu sedang mengejarnya. “Dia melamarku. Mama mendesakku untuk menikah.”

Jantungku melesak mendengar kata-kata itu.

Sejak malam itu, pertemuan kami adalah saat-saat yang menegangkan. Topik yang dibicarakan selalu seputar lamaran Phil dan berakhir dengan pertengkaran. Bertengkar, berpelukan, bertangisan. Itu adalah hari-hari kami sejak Phil melamarnya dan dia tak mampu menghindari itu semua. Pernah suatu malam, kami berdua bermobil di tengah jalan yang lengang. Tanganku yang satu memegang stir dan tanganku yang lain memegangi tangannya sangat erat. Air mata kami jatuh perlahan. Setiap pertemuan bagai hari terakhir buat kami. Begitu berat melepaskannya.

Aku memilih untuk tidak mau tahu kapan hari H perkawinan itu dan memutuskan untuk berpura-pura tak akan pernah ada. Tapi semakin aku memungkiri, semakin aku lari dari kenyataan. Semakin aku lari dari kenyataan, semakin tersiksa dan gelisah diriku.

Akhirnya, suatu malam aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kapan harinya tiba?” Kupikir, mau nggak mau hal ini harus dihadapi. Seperih apapun! Dia tidak mau menjawab. Aku paksa dia. Akhirnya dia menyebut bulan. Aku kejar dengan tanggalnya juga. Kulingkari tanggal itu di kalender, kututup dengan spidol hitam pekat sehingga tak terlihat lagi. Tapi tanda hitam pekat di kalender makin jelas terlihat setiap kali bulan berganti. Oh Tuhan, kalau tahu begini sakitnya, lebih baik aku tidak mencoba dari awal.

Hari-hari terakhir, aku mencoba menjauhinya, membolak balik pikiranku sendiri dalam perenungan. Orang bilang,”If you really love someone, you have to learn to let her go”. Aku mencoba sharing dengan para sahabat. Banyak input kudapat. Bahwa, cinta itu tidak boleh egois. Ada yang mengirimkan SMS dengan kalimat singkat tapi bermakna, “Justru makin dekat dengan apa yang kita takutkan, anehnya kita bisa menemukan titik pasrah.” Aku harus belajar mengerti kebutuhannya untuk menikah; aku belajar pasrah.

Aku kembali menjumpainya setelah aku mendapatkan kekuatan baru. Betapa rasa kangen sangat terlihat jelas di mata kami saat itu. Aku bertanya dengan tenang, “Schat, kamu sudah memilih gaun pengantin?”

“Belum! Susah sekali memilih, selain aku juga nggak begitu semangat sebenarnya.”

“Oke, aku akan bantu kamu memilihnya hari Sabtu nanti.”

Sabtu itu, kami berdua pergi ke bridal, pilih memilih. Aku pilihkan dia gaun yang kurasa paling pas. Akhirnya, selesai juga urusan gaun pengantin pada hari itu! Ahh, serasa aku yang akan menikah dengannya. Aku heran, ketabahan darimana yang terkumpul di dadaku? Berkali-kali dia berterima kasih karena aku sudah mau memilihkan gaun pengantin untuknya. Dan apapun pilihanku, dia akan dengan senang hati memakainya.

Laju waktu benar-benar tak dapat dicegah. Tanggal yang hanya nampak hitam oleh spidol di kalenderku datang juga akhirnya. Berkat support dari para sahabat, aku mampu menghadiri perhelatan besarnya. Betapa cantik my Schat dalam balutan gaun yang kupilihkan beberapa bulan yang lalu, berdiri di samping Phil yang tinggi gagah. Ingin sekali rasanya mengusir Phil, biarkan aku yang berdiri di sampingnya. Tapi sungguh tak tega melihat senyum tulus Phil padaku. Kadang aku heran, apakah Phil ini seorang malaikat sebenarnya? Kenapa aku tak pernah tega untuk membencinya, meskipun dia telah merebut kekasihku? Jalan terbaik adalah memasrahkan my Schat dalam perlindungan Phil. Kubisikkan di telinga Phil saat aku maju ke depan untuk menyalami kedua mempelai, “Phil, jaga dia baik-baik ya?” Dengan mantap Phil mengangguk, sambil membalas hangat jabat tanganku.

Dengan pernikahannya, hubungan kami tak terputus begitu saja. Rupanya, my Schat menepati janjinya untuk tetap di sampingku. Memang kami tak lagi bisa selalu bersama setiap saat seperti dulu. Tapi, hubungan tidak selalu dinilai dari kuantitas kebersamaan, tapi lebih penting dari segi kualitas. Betapa berharganya kontak di chatting yang hanya beberapa saat, betapa berharganya selarik SMS yang manis, betapa berharganya mendengar suaranya di pesawat telepon. Segala keegoisan menguap, berganti dengan rasa sayang yang tulus. Aku benar-benar mengerti kenapa dia harus menikah.

Aku terus berdoa, belajar memahami hidup. Memang tidak mudah, tapi hidup kan tidak terus menerus memberikan yang terindah. Sering kali, hidup menawarkan keperihan. Bila memang itu yang terjadi, hadapi dengan senyum dan hati seluas angkasa. Maka, semua akan menjadi baik-baik saja.

@Nikita Lie, SepociKopi, 2008

19 Comments »

  • Anonymous said:

    Dear Nikita..
    Membaca tulisan kamu serasa dejavu dengan kisah kasih seorang sahabat yang demikian tegarnya juga melepas kekasih bersanding d sisi pria pilihannya untuk menapaki hidup baru..
    Hidup adalah pilihan.
    Hidup adalah memilih dan menerima pilihan dengan lapang hati..
    Secarik sms manis, sebait kata d kotak chatting memang bisa jadi penglipur lara.
    Semua akan baik – baik saja.
    Biar waktu yang membasuh luka.
    Biar asa yang membimbing akal untuk tetap pada rasa yang sama..

    Salam kenal Nikita..
    -Carry-

  • Anonymous said:

    kisahmu hampir mirip denganku, bedanya, dia tidak memberitahukan sedikitpun rencananya itu apalagi mengundangku, tidak terkatakan betapa pedihnya ketika aku harus tau kabar itu dari orang lain,betapa sakitnya di lukai oleh orang yang selama 8 tahun aku kenal, namun aku setuju dengan kata2mu hadapi dengan senyuman, pahami semuanya, dan berikan hati seluas samudera, niscaya semua bisa kita hadapi..salam kenal juga

  • Anonymous said:

    Aku pernah mengalaminya…

    Dia menyembunyikan smuanya, dia ga mau aq terlibat bahkan tau gimana pernikahannya…

    Karena pernikahannya itulah, qt sempet putus nyambung (puluhan kali paling…).

    Karena aq berprinsip, biarlah dia menjalani hidup yang lebih normal dan g trus berbuat dosa. Selaen itu karena aq juga merasa bersalah sama kluarganya dan ga mau dia jadi susah karena hubungan qt.

    Tapi….
    Sampe hari nie, ketika aq mengenal banyak cewek laen, dan dia juga dideketin beberapa B laen…
    Hati dan jiwanya tetap untukku, dan hari2ku g berarti tanpa hadirnya…

    -Bint4ng-

  • NEZT said:

    Dear NIKITA
    i proud with u..
    u still keep u’r promise, dan yg paling buat mataku berkaca-kaca waktu baca ini, dimana moment km memilihkan gaun untuk dia.
    Mungkin seharusnya kejadian seperti ini yg terjadi antara aq dan my B, seperti yg kita selalu bayangkan dulu, dan dengan hanya membayangkanny saja akan mbuat kami berdua menangis. dan aq pernah memintanya tuk berjanji ga akan meninggalkan aq sebelum aq menikah, dan kita berjanji tuk menghadapi semuanya bersama. Dan kita akan tetap berhubungan baik setelah kita sama2 menikah.. semua rasa akan tetap sama.. Its need more that LOVE is’nt it?

  • millatza said:

    ……………..

  • Zoe said:

    Sumpah, ini posting membuat hati tegugah…. membuka hati dan pikiran ku…. makasih….. untuk kalimat terakih…..

  • Anonymous said:

    Dear Niki,
    Tulisan yg bagus, Nik. Begitu jujur dan tulus. Stay strong yah, sahabat. Kita selalu ada di sini untuk kamu.
    Dan, terus menulis yah. Poci tambah segar dg kehadiran kamu.
    Cassey

  • candra- said:

    Ah…rasanya emang ngga enak. Been there done that.

    Tapi enak skali pada saat melihat dia bahagia

  • De Ni said:

    Hai…
    Aku ampe nangis bacanya.
    Nusuk banget di hati.
    Semoga jika waktunya tiba, aku akan setegar kamu sista.
    Keep Strong!

  • Perjalanan Grey said:

    Semoga aku juga bisa sekuat kamu Nikita.

    Aku malu sama kamu, karena aku malah milih lari saat orang yang aku sayang mutusin menjauh dari aku, karena dia juga harus nikah ma co.
    Dan sampe saat ini, aku malah belum sanggup ketemu dia lagi.

    Salam kenal yah. Aku butuh belajar banyak dari kamu.

    GreyS

  • Jo said:

    Nikita, akhirnya keluar juga tulisan kamu, hehehe. Keep writing Sist :)

  • Anonymous said:

    Nikita…(jadi inget penyanyi cilik Nikita Meidy…hehehe..salah yaaak)
    tulisanmu sangat “nyata”, hal seperti ini yang butuh di-sharing-kan, krn mgkn akan banyak yg mengalaminya. Yuup..kata2 penutup yg sangat bermakna. Semua akan baik2 saja. Krn utk semua masalah, pasti ada ujungnya. Nobody knows when this journey ends, but everyone know, that there’s and end.
    Terus menulis dan berbagi ya Nikita :-)

    Lobin

  • ariegere said:

    mulanya aku gak mau tahu sama tulisan yg bau bau pernikahan, malas kalo bacanya jadi merasa rendah diri menjadi seorang lesbian. Tapi, waktu hasian ku bilang dia nangis pas baca tulisan ini..Aduh, air matakupun ikut meleleh mendengarnya…

  • Anonymous said:

    Pertanyaan ku cuma satu…kenapa orang yang aku cintai harus pergi meninggalkan aku??
    hmm…mungkinkah Tuhan sedang menguji aku???
    :-)

  • Anonymous said:

    crita yg tragis…jd ingat my little chat friend or my little chat sista….good choice of ur choice ndrow…hope u always in His hand forever cheers :-)

  • rhea ananda said:

    cerita ini, adalah cerita yang sering ada di komunitas kita. satu persatu femme menikah meninggalkan butchenya, mencari status dan keturunan. Aku, seorang femme pun masih belum bisa memutuskan apakah aku akan menjadi lesbian selamanya atau menikah. Hidup adalah pilihan. Kedua pilihan itu menyakiti orang-orang yang aku sayangi. bertahan ya sis, aku tau perasaan kalian meskipun aku belum merasakan. tapi, sampai kapan kamu bertahan?

  • Rie said:

    beruntung partner masih mempertahankan komunikasi. aku sekarang juga lagi menghitung hari, semakin dekat ke tanggal resepsinya. moga aku di beri kekuatan yang lebih besar lagi…

  • dhea said:

    kisahnya sama beud ma yg dhe alami… hari ini tanggal 9 february 2010

    karena papanya mendesak my bebe menikah dengan keputusan sepihaknya…..

    namun kami berjanji kami akan slalu ada… karna rhenot & dhedot a/ SATU SELAMANYA.. hingga nanti salah satu dari qta dah g ada…

    nik u’re my inspiration … sama beud sis kasus na ditinggal nikah disaat qta dah punya plan…

    keep rockinnn weergghhzz \m/

  • gobe said:

    I can feel how hard you try nikita..

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.