Home » Humaniora

Marah-Marah-Marah…

2 December 2008 71 views 5 Comments

Oleh: Bening

“Dik, Aa pengin indomi kuah. Ada nggak?” tanya Aa sesaat setelah mematikan mesin mobil.

“Kayanya nggak ada deh A…,” jawabku sambil lalu, mengangkat tas kerja dan tas bekal makan siangnya. Agak kesel juga, karena tadi saat dalam perjalanan menuju rumah aku sudah menanyakan pada Aa, apa dia menginginkan sesuatu untuk makan malam, katanya tidak. Eh, sekarang malah pengin ini itu. Aku malas harus berjalan menuju warung di ujung komplek.

“Adanya mie goreng. Mie goreng aja ya, A. Adik malas keluar lagi,” ujarku memberikan alternatif lain.

Entah eblis apa yang tiba-tiba mampir di kepala Aa. Ia langsung menggerutu, nyolot nggak keruan.

“Aku maunya indomi kuah! Mau yang seger. Gimana sih? Kalau nggak ada ya nggak usah. Nggak usah maksa indomi goreng.”

Jgeeeer!!!

Kesambet apa sih nih orang?! Nyebelin banget!

“Ih, nggak usah marah-marah gitu dong!” balasku nggak kalah nyolot, eblisnya sekarang nyambet kepalaku. Aku berlalu, mengentakkan kaki. Di mana-mana orang minta itu dengan sikap yang manis. Lembut dikit kek. Emang aku penjaga warung indomi apa?

Kutinggalkan Aa yang sedang memerikasa kunci garasi, aku masuk kamar mengganti celana pendek sepaha dengan pakaian yang lebih pantas.

Ketika melewati Aa, Aa menegurku, “Mau ke mana, Dik? kalau males nggak usah keluar.”

Ucapannya kuabaikan. Walau rasanya empet tapi aku coba mengendalikan pikiran. Mungkin Aa capek, tapi kan aku juga capek!

Arrrgh.

Aku menarik napas. Jalanan di antara deretan rumah kompleks kulewati perlahan. Meninggalkan kemarahan di antara kerikil, kutendang jauh-jauh. Kusentuh tanaman di depan pagar rumah tetanggaku, berharap mereka tidak hanya menghirup oksigen namun menghirup kekesalan di hatiku.

***

“Ini A’, indominya.” Kuangsurkan semangkuk mie kuah rasa kare, kesukaan Aa. Telur ceplok dan saos merah mengambang menggoda di pinggir mangkuk.

“Makasih, Dik. Maaf Adik jadi repot jalan ke warung,” ucapannya tulus. Aku luluh, tapi entah karena rasa capek atau apa, kemarahan itu masih menyisakan secuil ganjalan yang membuat aku malas berkomunikasi dengan Aa.

Aku menatap bibir Aa yang memerah, berdecap nikmat menyeruput kuahnya yang pedas gurih. Ekspresinya mengobati kerepotanku.

Seolah ingin menebus kesalahan, Aa menyuapkan kuning telur yang selalu menjadi rebutan kami berdua. Mata bulan sabit itu memancarkan senyum tulus. Tapi mengapa kekesalan itu tak sepenuhnya mencair? Duh, gawat ini…

“Adik kenapa? Marah sama Aa?”

“Enggak, A.”

“Kok Adik diam aja? Kayak ada yang lagi ngganjel di hati?”

“Nggak apa-apa A, Ning cuma capek.”

“Aa sayang Adik…”

“Iya, A… Adik juga sayang.”

***

Sesungguhnya aku tidak bisa ngambek lama-lama. Nggak bisa menghindari Aa. Walaupun sebelum tidur di atas bed aku mengambil jarak dari “wilayah tidur” Aa, walaupun Aa tau aku menjaga jarak dan ia tidak ingin memaksaku mendekat dan membiarkan aku tidur di “wilayahku”, tapi entah mengapa saat terjaga tengah malam aku mendapati diriku meringkuk dalam pelukannya.

Meski karena alasan pegal aku bergeser, tapi sepertinya itu juga hanya sesaat. Karena pagi hari aku mendapati diriku terbangun tepat di bawah ketiaknya, dengan lenganku melingkar memeluk perutnya. Ah…

Aku menyayanginya…

Seharian aku mencoba berdamai dengan kondisi kami berdua. Rasa capek dan tekanan kerja yang mulai naik mendekati ubun-ubun, stres menghadapi banyak perubahan yang membutuhkan energi untuk adaptasi membuat sumbu amarah memendek. Kompor jebluk, panci rombeng, ember bocor.

Seorang sahabat yang kuanggap sebagai ciciku sendiri membantuku mengembalikan suasana hati dengan menjakku ngobrolin hal-hal konyol, termasuk fakta bahwa kami sama-sama suka menyelipkan tangan di balik karet celana pasangan, bikin karet celana pada melorot. Ha ha ha…

Ah… Rindu mulai menyusup.

Kukirimkan pesan singkat ke nomor HP Aa. Hanya satu kata.

Mencintaimu.

Aa menjawab tak kalah singkat.

Me, too

@Bening, SepociKopi, 2008

5 Comments »

  • GB said:

    Bening:Mencintaimu
    Aa:Me,too

    GB:semoga km sentiasa damai
    dan berbahagia selalu-lalunya

    :-)

  • Fa said:

    ouch…
    what a love!

  • Fa said:

    ouch…
    what a love!

  • Affy said:

    Hahahaaa…kami berdua sampai ketawa geli mbaca cerita kamu ini, dik Ning…secara kami berdua pun di rumah sempat terperangkap dalam suasana stress dan sensi setiap pulang kantor karena kecape’an dan kerja yang nggak habis2nya di kantor, apalagi di akhir tahun,waduh…benar2 serasa kerja rodi gitu dech…makanya liburan wiken minggu ini aku mau bawa liburan partner ke pantai, biar nggak “aaaaarrrggghhhh…” mulu kitanya, heheheeee….
    Mudah-mudahan cuaca bersahabat, jadi nggak kehujanan di pantai nantinya…
    Yang sabar ya, Ning yaaa…mau ikutan refreshing sama kami nggak.?? : )

  • NEZT said:

    jangankan hanya karena capek tuk beli n mnyiapkan indomie y mb? marah dan sakit yg teramat parah az bisa hilang dgn mudah saat kita sangat menyayangi seseorang.

    NEZT

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.