City of Angels: Terang yang Bercahaya dalam Kegelapan
Tiga belas tahun lalu, aku mengalami kecelakaan di jalan tol. Mobil yang aku setir terpeleset di tengah hujan salju yang deras pada malam yang tergelap. Seketika mobil berputar-putar tanpa kendali, terguling dua kali, dan menabrak pembatas jalan tol. Mobil hancur, kepalaku terbentur benda keras dan pingsan seketika. Sampai detik ini, aku masih ingat kilatan seperkian detik saat aku berpikir aku akan mati.
Tapi aku tidak mati.
Delapan tahun lalu, aku berbaring di meja operasi, pasrah pada keputusan dokter. Aku didorong masuk ke ruang itu pada tengah malam dengan tergesa-gesa untuk melakukan penyelamatan satu-satunya bagi hidupku. Sampai detik ini, aku masih ingat wajah malaikat pencabut nyawa itu, yang datang seperkian detik di hadapanku. Aku telah melihat kematian.
Tapi aku tidak mati.
Lima tahun lalu, aku bertemu dengan kekasihku, dan menyadari diriku adalah lesbian. Aku menapaki lorong tergelap yang belum pernah kutapaki sebelumnya, tertatih-tatih melangkah, dan merasakan duri merobek-robek dagingku hingga berdarah dan bernanah. Sampai detik ini, aku masih ingat tentang malam tersunyi dan ketakutan yang meremas jantung dan napasku. Secara fisik aku terlihat sehat, tapi di dalamnya, jiwaku sekarat.
Tapi aku tidak mati.
Aku malah hidup. Tiga kali menghadapi kematian, baik secara fisik maupun spiritual, aku mulai bertanya-tanya, apa maksudnya? Mengapa aku diselamatkan, dibiarkan melanjutkan hidup? Suatu ketika, aku terbangun pada tengah malam dan hatiku dilanda kegelisahan yang luar biasa. Kuintip anakku yang tertidur, sungguh damai napasnya. Dalam kesunyian kamar, aku mengatupkan tanganku dan berkata, “Tuhan, itukah Engkau yang memanggilku?”
Bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.
Yohanes 15:16
Berapa kali Tuhan memohonkan perhatianku? Aku tidak menanggapi panggilanNya. Dengan cara yang halus, berkali-kali Dia memintaku menoleh padaNya, tapi aku mengabaikan. Pengalaman mendekati-kematian (near-death experience) tidak juga membuatku kapok. Setelah melewati peristiwa mengerikan itu, aku seakan-akan amnesia. Lupa bersyukur sebab aku kembali mendapatkan segala yang kuinginkan.
Akhirnya, Dia membangunkanku dengan cara yang berbeda. Dia yang mahakuasa membuatku jatuh cinta dengan seorang perempuan. Dia Sang Pencipta menumbuhsuburkan bibit lesbian yang telah ditanamNya sejak dulu di dalam diriku. Dia mencapkan stempel “Sang Pendosa” di jidatku supaya aku terus ingat tentang keberadaanNya dan mematuhi apa yang diinginkanNya saat Dia menciptakanku dengan sempurna. Aku percaya apapun yang terjadi pada hidupku adalah perjalanan takdir yang digariskan olehNya.
Sungguh, justru dengan menjadi lesbian, aku malah semakin dekat dengan Tuhan. Mungkin terdengar aneh bagi beberapa orang yang menjauh dari Tuhan ketika mengetahui dirinya mencintai sesama jenis. Aku diliputi ketakutan yang dasyat sehingga aku butuh perlindungan daripadaNya. Aku dihantam kesedihan yang luar biasa sehingga aku butuh penghiburan daripadaNya. Aku digerus kepedihan yang mencekik sehingga aku butuh pengharapan daripadaNya.
Dengan menjadi lesbian, Dia merendahkanku serendah-rendahnya agar aku selalu ingat bahwa aku tidak boleh pongah. Dia menekukkan kakiku agar aku selalu dipenuhi kesadaran bahwa aku hanyalah manusia yang kotor dan penuh dosa. Aku tidak dapat membayangkan diriku jikalau aku bukan seorang lesbian. Apakah aku akan menjadi manusia yang tak dekat denganNya, tak mampu mengucap syukur, bahkan berfoya-foya dengan segala kemewahan yang kumiliki? Apakah aku akan menjadi perempuan yang buta dengan penderitaan di sekelilingku, sibuk dengan kebahagiaan diri yang semu, serta tuli dengan jerit tangis sesama? Apakah aku akan menjadi orang apatis, moralis, dan tak mampu mengucap doa? Betapa mengerikan jalan hidup seperti itu. Membayangkannya saja aku tidak sanggup.
Menjadi lesbian bukan suatu hukuman dariNya, tapi sebuah panggilan lembut. Dia pernah menyapaku beberapa kali tapi tetap saja tak kugubris. Dia pernah memberikan begitu banyak kemurahan, talenta, dan peluang padaku agar aku selalu ingat padaNya, tapi tetap saja aku berdiam diri. Dia pernah mendekatkanku pada kematian agar aku takut dan mengingat kekuasaanNya, tapi tetap saja aku mengabaikanNya. Ternyata jalan lesbian adalah bisikan lembutNya padaku; sungguh-sungguh membuatku terjatuh dan berseru-seru padaNya.
Ya, menjadi lesbian memang tidak membuatku menjadi manusia yang seratus persen sempurna. Jelas tidak! Namanya juga perempuan lesbian, perempuan yang melakukan dosa-dosa dengan kesadaran diri. Tapi aku tahu, kelesbiananku membangkitkan hal-hal lain yang dengan positif kulakukan sepenuh dayaku agar mematuhi hukum-hukumNya yang lain. Aku tak putus asa memohon ampun atas segala dosa yang kuperbuat; ampunan itu keluar dari mulutku sebab aku seorang lesbian. Kupercaya Dia adalah Sang Mahapengampun dan Sang Welas Asih.
Kini aku membawa terang dalam kegelapan kelesbiananku. Terang yang kubagikan kepada sesama, terang yang selalu kujaga agar tidak padam. Karena itulah satu-satunya terang yang kupunya. Kalau terang itu padam, dengan apa bisa kulihat diriku? Kalau terang itu mati, bagaimana caraku berjalan dalam kekelaman ini? Dialah Tuhan yang memberiku terang, suluh yang menyala berkobar-kobar, menghangatkan hatiku yang menggigil dingin. Dia memintaku untuk menjadi pekerjaNya untuk mencintai dan melayani. Menanggapi panggilan itu, aku mengatupkan tanganku dalam doa dan berkata kepadaNya, “Ya, Tuhan, aku bersedia. Bentuklah aku menjadi apapun dan atas kehendakMu, terjadilah.”
Menjadi lesbian adalah anugrah hidupku. Tanpa menapaki jalan ini, aku adalah domba yang tersesat jalannya tanpa terselamatkan. Aku melangkah semakin jauh dan semakin hilang dari kawananku. Menjadi lesbian adalah kesadaran dan keinginanku untuk kembali kepada gembalaku. Aku berbalik dan mengembik-embik. Dia mencari dan ketika Dia menemuiku yang sedang ketakutan di bawah jurang teramat gelap, Dia menyelamatkan dan menggendongku. Darahku belum lagi kering dan lukaku belum lagi sembuh, tapi hatiku hangat dalam pelukanNya. Kini, bukankah aku seharusnya bersyukur bahwa Dia yang membentangkan jalan ini di hadapanku?
Sebab Engkau telah meluputkan aku daripada maut, bahkan menjaga kakiku sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.
Mazmur 56:14
@Lakhsmi, SepociKopi, 2008










Kamu betul laks, saat aku mengakui aku Lesbian, aku juga jadi lebih dekat dengan Tuhan.
Karena aku merasa ditolak oleh lingkunganku, cuma Tuhan yang bisa menerima keberadaanku.
Tuhan satu-satunya tempatku berpulang dan mengadu saat ini.
Thx atas Laks.
Somehow, in a weird way, God lead us back to His home.
Ya, menjadi lesbian memang tidak membuatku menjadi manusia yang seratus persen sempurna. Jelas tidak! Namanya juga perempuan lesbian, perempuan yang melakukan dosa-dosa dengan kesadaran diri. –> ungkapan yg menyentuh, jujur dari seorang Lax. Sisi yang begitu juga kurasakan.. Jika kusendiri berusaha memanifestasikan rasa bersalah itu dengan tidak berefouria dengan sisi ini… Aku pribadi memahami sisi ini sebagai ujian agar lbh dekat dengan DIA, bukan perayaan cinta dgn perempuan.
Semoga kita semua tetap diberi kemudahan, bimbingan dan kesadaran untuk terus dekat dengan-Nya, diberi kekuatan untuk dapat bercermin melihat jujur ke dalam diri terhadap kekurangan2 – salah & dosa dlm diri – serta pandari bersyukur dgn anugrah2 yg Tuhan beri pada kita. Kalau dalam agamaku dikatakan bahwa susah – dan senang sama saja, kedua-nya adalah ujian untuk kebali pada-Nya. Bersyukur dan bersabar dikala senang ataupun susah.
Tuhan Maha penyayang dan pengasih smg kita tak berputus asa dengan rahmat dan ampunan-Nya, diberi kemudahan untuk tetap rendah hati, dijauhi dari sifat2 kesombongan dalam diri. Amin. -em
Bner bgt tuh tulisannya.. Saat aku merasa diriku seorang lesbian, aku menjauhi Tuhan. Jauh dari pelayanan di gereja.. Aku pkir aku tidak layak melayani Dia..namun aku salah.. Kini aku sadar aku harus tetap setia kepada Nya bagaimanapun keadaanku. Aku hrs slalu bersyukur atas apa yg diberikan Nya kepada ku.. Jbu
@Kaylee, maaf ya, komen kamu nggak sengaja terhapus. Ini komenmu, aku posting lagi di sini:
Sungguh tulisan yang sangat bagus kak lax.
GBU
Kadang Tuhan menguji kita apakah kita ingat kepada Nya…kadang Tuhan menyentil kita karena DIA ingin tahu sedang apa kita…kadang Tuhan menjewer kita karena dia sebal melihat kita tidak pernah lagi ingat ataupun menyapa NYA…tapi Tuhan melakukan itu semua karena Tuhan sayang kepada kita umat nya yang seharusnya selalu ingat dan bersyukur pada NYA walaupun tidak harus DIA dahulu yang memulainya.
Tuhan hanya ingin tahu siapakah kita ini???
nice story sista
sebab tuhan tau nafsu membunuhmu lebih besar drpd mengasihi sesama maka setiap kamu mati akan dihidupkan kembali olehnya
karma
That’s the way I choose,Laks!
GBU
andai aku boleh berandai menjadi Tuhan..mungkin aku akan bergumam sperti ini :
“emang enak manusia itu…Kami cemplungkan mereka ke dalam indahnya neraka dunia dan kemudian Kami tarik kembali mereka untuk sesaat ..untuk kemudian Kami cemplungkan kembali ke dunia yang fana hingga pada akhirnya diantara mereka ada yang menyadari penting nya bekal amal ibadah untuk menghadap ku pada akhir nanti.”
manusia dicemplungkan ke dunia yang fana ini dengan segala kejadian dan keajaiban yang terjadi di sekeliling kita untuk kemudian pada akhirnya semua harus mempersiapkan diri untuk mencari jalan menghadap Illahi Robi.”
Nice ci
seperti yang aku bayangkan
kamu telah menjadi inspirasiku hari ini.
adam dan hawa tidak akan pernah tahu bahwa mereka istimewa, kalau mereka tidak makan apel itu, dan diturunkan ke bumi..setelah keluar dari surga,mereka baru tahu SIAPA MEREKA.
untuk tahu siapa diri kita, kita harus keluar.. lalu masuk lagi..
2 Kor 12:9 “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”
so, siapapun kita, sbrapa berdosanyapun kita, dalam kondisi terpuruk, di sanalah Tuhan hadir..dan Tuhan ga pernah salah..
yg perlu kita lakukan adalah belajar dan terus belajar, introspeksi diri.. sudah cukupkah kasih yg kita berikan pada sesama??? yah, terutama sesama jenis. haha.
yg jelas, God is good all the time!!!
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 64 queries. 1.109 seconds.