Living in the Mal
Hari gini tinggal di Jakarta siapa sih yang nggak pernah ke mal? Puluhan mungkin ratusan mal tersebar di kota Jakarta tercinta ini. Kafe dan resto pun jadi tempat nongkrong wajib tiap weekend. Ke mal pun jadi lebih sering dibanding ke rumah ibadah.
Bisa dibilang kita bersosialisasi, makan, minum, “nyetor” di toilet, bermain, mencari hiburan, bahkan bekerja pun di mal. Entah berapa puluh jam per minggu yang kita habiskan untuk hidup di mal. Coba mulai sekarang kumpulkan karcis parkil mal, lalu setiap bulan hitung jumlah jam yang kita habiskan di sana. See, what i mean?
Berbagai kafe dan resto di mal pun menyediakan beragam fasilitas untuk menambah kenyamanan pengunjung. Makanan yang serupa rasanya di mal membuat pengunjung harus diberi insentif tertentu agar mau memilih resto tersebut. Mulai dari harga bersaing, diskon kredit card tertentu, wi-fi, dan view spektakuler.
Aku termasuk orang yang gampang kena iming-iming diskon tertentu. “Eh, kalau pakai kartu kredit X kita bisa dapat diskon 50%. Makan di sana aja yuk, kebetulan gue punya kartunya,” temanku mengajakku masuk ke sebuah restoran Jepang. Sebenarnya perut belum lapar banget, tapi ayolah… mumpung bisa makan sushi dengan setengah harga.
Belum lagi kalau sedang ngumpul bersama sobat-sobat lesbian, yang termasuk acara rutin bulanan. Jadilah resto atau kafe yang menawarkan diskon untuk kartu kredit tertentu jadi pilihan kami. Kalau ada yang merelakan kartu BCA-nya dipakai duluan, jadinya kami nongkrong di Starbucks. Kalau ada yang mau pamer kartu kredit Bank Mega, ya berakhirlah kami di Coffee Bean.
Dipikir-pikir lucu juga, kok kita jadi masuk ke resto atau cafe bukan karena suka makanan atau minumannya ya? Selain urusan kartu kredit ini, aku jadi ingat pernah nongkrong berjam-jam di sebuah kafe di dalam toko buku di mal. Alasannya bukan karena kami lapar, tapi karena kafe ini menyediakan free wi-fi, pemandangan ke Bundaran HI yang spektakuler, dan ketika batere laptop habis kami “diizinkan” mencolok kabel listrik di sana. Aku dan temanku jadi memesan makanan tambahan dan minuman lagi, dan akhirnya kami harus menghabiskan ratusan ribu rupiah demi wi-fi dan pemandangan spektakuler plus makanan yang biasa-biasa saja itu.
Selain karcis parkir, mulailah mengumpulkan bill resto/kafe hasil makan/minum di mal. Coba hitung berapa banyak gaji yang kita habiskan di sana. Shocking heh? My first reaction was like, “what? WHAT?” Well, that’s the price we have to pay for living in the mall.
Happy Weekend. See you at the mall, girls.
@Sidney, SepociKopi, 2009










ahm, benar2 bukan aku..
( aku dulu pernah sempat bertanya2: kok kayaknya lesbian itu kota banget ya. apa lesbian itu emang musti postmo?_soalnya aku nggak gitu sih..
) sampek aku meragukan kalau aku lesbian_jangan2 aku bukan lesbian scra nggak ‘ngotai’.. tapi itu dulu. setelah beberapa lama.. terserah deeh. entah kota, entah nggak, lesbian ato nggak, pokoknya this is me.. whatever lah!
) )
Weleh..weleh..masa lesbian ato nggaknya diukur dr sringnya ke mal sih?ya gak sgitunya kalee
aku ma partner malah gak seneng tuh ke mal,apalagi yg ruamainya luar biasa. Kepala malah mumet ngeliat orang banyak,yg mau belanja aja ngantri. Ampun deh,mau buang duit aja kok sengsara bgt!! Kantorku deket bgt sama mal ter’elit’ di jakarta (hayoo..siapa yg mau pindah ke ktr aku? :p ),tp bisa keitung jari berapa kali aku ke mal dlm 3 bln…hehe. Kalo ga kepepet ada tmn2 yg desperate pengen ketemu aku atau mau beli barang yg ga ada di warung, baru deh aku ke mal. Gak mungkin kan mau beli tas elle atau braun buffel di warung? Kl di warung ada sih, aku pasti beli di warung aja :p Tp mang banyak jg tmn2 aku yg maniak ma mal. Malah sampai bs dijadiin directory kalo yg laen pengen tau toko ini ada di lantai berapa sih, atau toko itu sebelah mana sih atau bahkan nanya toilet…hahaha, salut jg sampai bisa ngapalin segitu gedenya mal
)
Kalo ada perkumpulan anggota mall se-Jakarta..Mithya aku daftarin no.1..hehehehe
‘manusia berjalan tegak di mall- homo erectus mallngus?’
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 64 queries. 0.548 seconds.